Rumah Si Tukang Review

a review a day takes your curiosity away

Archive for December 2008

[Movie] Resident Evil Degeneration

with one comment

RE Degeneration Poster

RE Degeneration Poster

Director: Makoto Kamiya
Artist: Alyson Court, Paul Mercier
Running Time: 97 Minutes

Salah satu film straight-to-DVD yang saya tunggu adalah Resident Evil Degeneration. Serupa dengan Final Fantasy VII Advent Children garapan dari Square Enix beberapa tahun yang lalu, Capcom menggarap Resident Evil Degeneration; sebuah cerita stand-alone Resident Evil yang mengambil setting 7 tahun setelah Resident Evil 2. Kendati memainkan game Resident Evil sebelumnya tidak wajib, mengetahui apa-apa saja yang sudah terjadi di dunia game Resident Evil akan sangat membantu anda mengapresiasi cerita di Degeneration (coba cek informasi singkatnya di Wikipedia). Sebaliknya bagi kalian yang tidak pernah menonton film layar lebarnya justru tidak perlu khawatir karena Degeneration sama sekali tidak berhubungan dengan trilogi film layar lebar Resident Evil yang diproduseri Paul WS Anderson.

Tokoh utama dalam Degeneration sekali lagi adalah duet Leon S. Kennedy dan Claire Redfield seperti Resident Evil 2. Setelah tujuh tahun yang lalu keduanya berhasil selamat dari teror zombie di kota Racoon, keduanya harus kembali bahu membahu mencari tahu apa penyebab sebenarnya ketika T-Virus outbreak terjadi di bandara Internasional. Selain keduanya, beberapa karakter lain seperti keluarga Miller (Angela dan Curtis) dan Senator Ron Davis pun diperkenalkan untuk memperumit cerita. Tujuh tahun berselang dari Resident Evil 2, kita sudah tahu sedikit banyak mengenai apa yang terjadi pada duet ini. Claire sudah bertemu kembali dengan kakaknya Chris dalam Resident Evil Code Veronica sementara Leon bekerja di Gedung Putih dan menyelamatkan sang anak presiden di Resident Evil 4. Hanya saja, apakah pengalaman keduanya cukup untuk selamat kali ini?

Degeneration berbeda dengan Resident Evil layar lebar lain karena ia digarap langsung oleh CAPCOM, menggunakan render 3D, dan masih bersetting di dunia gamenya. Banyak fans (termasuk saya) berharap bahwa Resident Evil ini akan lebih berhasil membawa nuansa survival horror yang begitu dominan dalam gamenya – tetapi hilang dalam film-film layar lebar Resident Evil (siapa yang takut menonton Resident Evil kalau tahu Alice adalah manusia super?). Sayangnya, Degeneration juga mengecewakan di mataku. Saya mengira kalau setting film ini akan berfokus pada bandara udara di mana outbreak terjadi, tak dinyana, film ini hanya mengambil sepertiga awal film di bandara udara sebelum berpindah setting. Boro-boro menemukan makhluk-makhluk khas Resident Evil macam Licker, Hunter, ataupun zombie anjing, satu-satunya ‘varian’ zombie yang akan anda temui hanya zombie-zombie normal infeksi T-Virus. Cerita Degeneration yang malahan berusaha memperdalam sejarah keluarga Miller dan karakter Ron Davis pun gagal. Pendalaman sejarah keluarga Miller terasa tanggung dan dipaksakan, sementara karakter Ron Davis… jujur saja, kalau ada orang semenyebalkan itu, dia tak mungkin bisa jadi senator. Kenapa selalu terjebak dengan stereotipe pejabat itu pasti brengsek dan menyebalkan?

Tapi yang paling mengecewakan di mataku adalah pertemuan Claire dan Leon. Setelah terpisah tujuh tahun, saya banyak menanti-nantikan adegan pertemuan mereka kembali. Betapa kecewanya saya ketika pertemuan keduanya seakan anti-klimaks dan tergarap seperti sambil lalu saja. Degeneration berusaha menebusnya dengan kembali memberikan kesempatan mereka berdialog empat mata – itupun tidak sampai lebih dari semenit. Ke mana chemistry keduanya yang terbangun selama Resident Evil 2? Bukankah pasangan inilah yang bahu-membahu menyelamatkan diri dari Racoon City?

Selain kecewa pada jalan cerita Degeneration yang terasa dangkal, animasi dalam Degeneration pun harus saya kecam. Jangankan dibandingkan animasi-animasi Pixar atau Dreamworks seperti Wall-E dan Kung Fu Panda, gerakan-gerakan karakter di Degeneration pun masih tergolong kaku dan bergerak dengan ‘aneh’ apabila dibandingkan dengan Advent Children yang berusia hampir tiga tahun lebih tua darinya. Dan sebagai informasi, tiga tahun dunia informasi hampir berarti tiga puluh tahun dalam dunia manusia, bagaimana saya tidak kecewa? Untungnya saja CAPCOM setidaknya masih mempertahankan kualitas suara dalam Degeneration dengan kembali mengontrak pengisi suara Claire dari Resident Evil 2 dan Code Veronica serta pengisi suara Leon dari Resident Evil 4.

Akhir kata, saya tetap merasa bahwa Degeneration adalah sebuah film Resident Evil yang mengecewakan. Hype yang besar, ekspektasi yang kelewat tinggi, dibalas CAPCOM dengan sebuah movie tanggung yang awalnya bertema survival horror ala Resident Evil, tengahnya penuh melodrama picisan film sci-fi kelas B, dan ditutup dengan rentetan adegan aksi yang tidak masuk akal. Boring CAPCOM! Film ini hanya bisa saya rekomendasikan bagi para penggemar berat Resident Evil yang rela menutup sebelah mata akan semua kekurangan di film ini.

Score: 4.0

Written by Si Tukang Review

December 31, 2008 at 5:25 pm

Posted in Motion Picture, Movie

Tagged with , ,

[TV] Top 10 Favorite Characters in Lost

without comments

Salah satu hal yang membuat Lost berbeda dengan serial-serial TV lain adalah deretan pemainnya. Apabila sebuah serial TV rata-rata hanya memiliki lima sampai enam pemeran utama dengan beberapa guest star, maka Lost memiliki sekurang-kurangnya 12 pemeran utama (di season 3 bahkan sampai 16 pemeran utama kalau tidak salah dengan guest star yang jumlah hampir sama banyaknya. Dari begitu banyaknya karakter utama di Lost, hampir semuanya memiliki karakter-karakter unik yang membuat kita cinta – atau benci kepada mereka. Setelah menonton empat season Lost, saya memutuskan untuk membuat list dari Top 10 karakter favorit saya di Lost. Here they are:

10. Hugo (Season 1 – Now)
Semula mengenal Hugo, sebagai pemirsa kita akan merasa bahwa dia orang yang baik, ramah, selalu siap menolong orang, dan… gendut (hey, he’s super fat. That’s undeniable). Kendati apa yang terlihat di luaran itu memang demikian adanya, dalam Hugo ada sisi kelam yang tak terlihat pada awalnya. Hugo ternyata pernah memenangkan lotere dengan menggunakan nomer di Lost (you know that ever so popular number of 4, 8, 15, 16, 23, 42) dan semenjak saat itu terus terkena nasib buruk. Yang lebih mengejutkan adalah Hugo pernah juga dirawat di Rumah Sakit Gangguan Mental, memiliki teman bicara yang ‘tak pernah ada’, dan penyakit suka makan yang berlebihan (well – yang terakhir ga terlalu mengejutkan sih, semua teman gendut yang kukenal juga suka makan berlebihan). Toh, terlepas dari semua itu, Hugo selalu ada untuk menyajikan comic relief dan pembuat fun dalam tim. Tanpa ada dia, Lost rasanya akan terlalu serius.

09. John Locke (Season 1 – Now)
Salah satu karakter misterius yang paling kugemari di season-season awal, penilaianku terhadap karakter John makin menurun setelah kelakuannya di season-season berikutnya. Ketika di episode pertama menontonnya dan melihat dia malah berhujan-hujanan sementara semua orang berteduh, saya menyangka kalau ia seorang psikopat. Di episode keempat (Walkabout), misteri besar tersibak yang membuat saya merenung kembali dan menyadari bahwa apa yang dilakukan John sangat-sangat masuk akal. Bayangkan, kau lumpuh dan ada di kursi roda selama bertahun-tahun dan sang pulau menyembuhkanmu. Tidakkah kau akan bersujud dan bersyukur pada pulau tersebut? John mungkin hadir sebagai anti-thesis dari Jack. Apabila Jack adalah seorang man of science, maka John hadir sebagai man of faith. Terlepas dari apakah anda suka tingkah laku John atau tidak – tidak bisa dipungkiri dia adalah seorang yang sangat berpengaruh di Lost.

08. Libby (Season 2)
Libby adalah karakter yang mementahkan pemikiranku bahwa “Cowo obesitas seperti Hugo dapat pacar? Aiya – mimpi kali ye… Cowo baik dan gendut hanya cocok dijadikan teman. Kalau mau cari pacar – silahkan cari yang ganteng… like Sawyer or Jack. Hugo cukup jadi teman curhat saja la yaw”. (Hey admit it girls. Cowo gendut tidak atraktif). But Libby is different, kisah cintanya dengan Hugo membuatku terharu, dan kematiannya yang begitu mendadak adalah salah satu “WTF!?” momen yang paling mengejutkan di Lost. Kematiannya juga membuat misteri yang menyelimuti dirinya (seperti bagaimana ia memberi kapal pada Desmond atau berada di Rumah Sakit Jiwa yang sama dengan Hugo) belum tersibak. Konon para produser Lost menjanjikan bahwa misteri mengenai siapa Libby akan dibuka di season 5 – membuktikan bahwa karakter ini memang masih memiliki daya tarik di mata para penggemar Lost.

07. Mr Eko (Season 2 – 3)
Selain John, karakter yang diselubungi oleh misteri dan merupakan man of faith lain adalah Mr Eko. Bedanya, apabila John percaya kepada sang pulau misterius, Mr Eko percaya pada Tuhan. Semula Eko adalah seorang pengedar obat bius, senjata, dan segala macam kegiatan haram di Afrika sana. Kisah awalnya di mana ia mengotori tangannya demi menolong sang adik menjadikan karakter ini menarik simpati banyak orang. Satu hal lagi mengenai Eko adalah dia berani berkonfrontasi secara langsung dengan monster asap hitam yang begitu ditakuti oleh semua orang di pulau itu. Dahsyatnya lagi, monster asap hitam itu justru yang mundur menjauhi Eko. Sayang, pada pertemuan kedua monster asap hitam itu menjadi lebih ganas dan menghabisi Eko. Still, he remain the most interesting character from the plane’s tail section.

06. Benjamin Linus (Season 2 as Henry Gale, Season 3 – Now)
Saya tidak tahu apakah harus benci atau cinta dengan orang ini. Benjamin ‘Ben’ Linus adalah The Others yang paling cerdik. Tidak ada The Others seperti dia. Ethan dan Goodwin mungkin kuat secara fisik, tetapi Ben adalah seorang manipulator. Acap kali saya membandingkan dirinya dengan Loki dari mitologi Norse. Tatapan matanya yang dingin dan penuh kalkulasi, kata-katanya yang berbalik antara penuh sarkasme dan manis, sampai dengan kejeliannya memikirkan segalanya sampai beberapa langkah ke depan… dia sepertinya memenuhi semua syarat untuk menjadi penjahat utama dalam seri ini. Anehnya, Ben tidak pernah juga membuat kita benci total padanya. Adegannya dengan anaknya di season 4 membuatku tetap tersentuh. Ben benar-benar karakter yang unik dan tiada duanya. Gara-gara ada dia, Lost jadi kian berwarna.

05. Sayid (Season 1 – Now)
Banyak orang mengatakan kalau mereka diberi kesempatan berdekatan dengan satu orang supaya bisa selamat dari pulau Lost, mereka akan memilih untuk berdekatan dengan John atau Jack. Saya berbeda. Kalau saya suruh memilih, saya akan memilih Sayid. Apa yang kurang dari dia? Dia seorang tentara Irak (buat yang tidak mengerti; zona perang di Irak adalah zona perang yang paling ganas di dunia), seorang penyiksa yang siap mengekstrak informasi yang dibutuhkan dengan cara apapun juga, dan tangkas dengan senjata dan alat komunikasi. Jelas Sayid adalah pilihan utamaku kalau aku mau selamat di sebuah pulau yang dihuni oleh The Others yang kapanpun bisa menculikku.

04. Jin (Season 1 – 4?)
Ketika melihat Jin di premiere dari Lost, saya yakin hampir semua orang bersumpah-serapah yang sama dengan yang saya lakukan: “Apa yang si keparat itu lakukan pada si seksi Sun?!?! Dasar cowo ga tahu diri… Dasar cowo bejat… Dasar cowo ga bisa memperlakukan cewe sama sekali…! Ga gentleman!!!” Dan saya berpikir kalau saya ke Korea, saya pasti bisa dengan mudah memikat hati cewe-cewe di sana (yah, kalau saingan cowo bejat macam Jin semua sih…). Lantas flashback pertama Jin dan Sun muncul, kisah dari keduanya diperdalam, dan saya menemukan bahwa Jin bukanlah cowo keparat dan bejat. Jin justru cowo paling gentleman di seluruh pulau Lost. Apa yang ia lakukan selama ini adalah demi melindungi Sun. Jin yang mulanya begitu kaku, berubah menjadi pria yang hangat dan disenangi siapa saja di pulau itu. Terlihat sekali ia berjuang mati-matian untuk kembali menjadi pria yang dulunya pernah memenangkan hati Sun. Siapa yang tidak simpatik dengan pria seperti itu? Rasanya saya jadi minder untuk pergi ke Korea kalau disuruh bersaing dengan pria macam Jin…

03. Desmond (Season 2 – Now)
Entah apa yang membuat saya tertarik kepada karakter Desmond. Apa aksen Scottishnya yang menyebut semua orang dengan “Brother” dan menjawab pertanyaan dengan “Aye”? Apa kisah cintanya dengan Penelope yang begitu mendayu-dayu, tetapi sekaligus bisa kurelate? Entahlah. Yang jelas, semenjak awal kehadirannya, Desmond sudah mencuri perhatianku. Ia makin memperoleh simpatiku di season tiga ketika ia berulang kali menolong Charlie dari ‘kematian’nya dan kisah tragisnya dengan Penny diperdalam. Ketika di episode The Constant mereka untuk pertama kalinya berkomunikasi satu sama lainnya, air mataku merembes tak tertahankan. Buat mereka yang pernah mengalami pacaran jarak jauh pasti mengerti benar apa yang kumaksud.

02. Sawyer (Season 1 – Now)
“Apa? Kamu paling suka Sawyer? Kok bisa sih? I mean he’s interesting I give you that. The bad boy type… the guy with a bad past… turns him into a big bastard too… Yea… but come on… Favorite? Why?”
Itu kata-kata yang kuucapkan ketika berdiskusi dengan temanku mengenai Lost. Saat itu aku berada di pertengahan season 2. Akhir season empat memantapkan Sawyer untuk berada di posisi dua, dan mengingat karakter di posisi pertama sudah meninggal dunia, apabila Sawyer terus menarik simpatiku seperti ini, ia bisa jadi menjadi karakter favoritku di Lost. Sederhananya begini, tidak ada karakter yang mengalami perubahan paling besar di Lost kalau bukan Sawyer. Sawyer yang pertama kita kenal adalah Sawyer yang tamak, serakah, dan selalu berprinsip semaunya sendiri yang penting gw selamat. Egois setengah mati. Menyebalkan. Tetapi perlahan-lahan citra itu mulai luntur. Kalau anda melihat season empat di mana ia berlari menyelamatkan Claire atau bagaimana ia melompat dari helikopter merelakan dirinya tidak diselamatkan demi keselamatan seluruh kru yang lain, anda akan sadar betapa berubahnya Sawyer. Dan mau tidak mau anda akan merasa bersimpati dengannya.

01. Charlie Pace (Season 1 – 3)
Ah, pilihan yang sama sekali tak disangka-sangka siapapun bukan? Bukannya Jack atau Kate (ya, mereka tidak masuk karakter favoritku walau di season-season awal sempat kugemari) tapi malahan si mantan pecandu heroin Charlie. Charlie memang tidak pernah menjadi karakter dominan dalam Lost. Ketika semua orang hanya sibuk beradaptasi dengan kehidupan di pulau itu, Charlie harus sibuk beradaptasi dengan dua hal, kehidupan di pulau itu dan kehidupan tanpa heroinnya. Yang membuat saya terkesan dengan Charlie adalah kendati muncul godaan baru mengenai kecanduan heroinnya, ia tidak pernah sampai terjebak lagi ke dalam lingkaran setan itu. Berbeda dengan kematian karakter-karakter lain yang mengagetkan dan tak disangka-sangka, kematian dari Charlie sudah diprediksikan dari awal season tiga. Ia yang semula terus menolak takdir, akhirnya menerima takdir itu demi kebahagiaan Claire. Saya tidak tahu dengan kalian, tetapi ketika ia menulis bahwa dalam saat yang paling membahagiakan dalam kehidupannya adalah saat ia pertama kali melihat dan jatuh cinta pada Claire, saya menangis. Saya sepenuhnya mengerti apa yang Charlie rasakan saat itu. Saya tahu Charlie bukan pilihan semua orang – tapi bagi saya secara pribadi; Charlie will always be one of my favorite character.

Written by Si Tukang Review

December 31, 2008 at 12:45 am

Posted in Motion Picture, TV

Tagged with

[PSP] LocoRoco 2

without comments

LocoRoco 2 Cover

LocoRoco 2 Cover

- tilt and roll -

Publisher: SCEI
Developer: SCEI
Genre: Platform

Di awal-awal hadirnya PSP dan NDS gamer-gamer selalu memiliki anggapan bahwa NDS adalah handheld untuk casual gamer dan PSP adalah handheld untuk hardcore gamer. LocoRoco adalah salah satu game PSP yang akhirnya berhasil mengubah persepsi sempit kebanyakan orang. Memainkan karakter sebuah (banyak buah?) slime bernama LocoRoco yang menggelinding sana-sini di dunia penuh warna diiringi lagu anak-anak. How casual more can you get?

If it ain’t broken, don’t fix it“, mungkin itulah yang ada di benak SCEI ketika menggarap sekuel ini. Hampir tidak ada perubahan sama sekali yang dilakukan Sony ketika merilis LocoRoco 2. Kontrol game ini masih mengajakmu untuk memanfaatkan tombol L dan R untuk mengubah orientasi layar. R akan memiringkan layar ke arah kanan dan memungkinkan LocoRoco menggelinding ke arah itu. L di lain pihak memiringkan layar ke arah kiri dan menggelindingkan LocoRoco ke arah kiri. Menekan tombol L dan R secara bersamaan membuat LocoRoco melompat. Sesederhana itulah kontrol untuk memainkan game ini. Siapapun mulai dari anak-anak hingga orang dewasa bisa memainkan dan menikmati kesederhanaan gameplaynya.

Tujuan game ini sangat sederhana. Gelindingkan LocoRoco sampai ke finish. Di awal stage kamu hanyalah satu ekor LocoRoco mungil. Seiring dengan power-up yang bisa terus kamu kumpulkan di level tersebut, LocoRocomu bisa tumbuh makin besar dan memecah diri menjadi banyak LocoRoco mungil. Stage-stagenya memiliki variasi tema sendiri (mulai dari hutan yang hijau hingga dataran salju yang putih) dan memiliki keunikan, kekhasan warna pastel yang lembut. Bagi kamu yang pernah main LocoRoco pertama, jangan khawatir karena design stagenya masih semenarik prekuelnya, kamu yang baru pertama kali menginjakkan kaki ke daerah LocoRoco – bersiaplah terkesima akan keindahan dunianya. Selain grafis, musik-musik baru nan ceria juga sudah disiapkan untuk menemani petualangan kamu menggelinding di stage demi stage.

LocoRoco 2 bukannya tidak memiliki kekurangan apapun juga. Nilai orisinalitas dalam game pertamanya masih terasa, tetapi para penggemar lama akan menyadari kalau tambahan minimum dalam LocoRoco 2 menjadikan petualangan kali ini sedikit terasa hambar. Memang ada musik baru, memang ada cerita baru (dengan inti yang sama), kemampuan baru LocoRoco dan stage yang baru, but in the end; semua bisa dirangkum dengan kata-kata “been there, done that“. LocoRoco 2 masih memiliki charmnya, tetapi apabila SCEI terus mempertahankan gaya ini, bukan tidak mungkin para penggemar akan bosan untuk terus ikut menggelinding dalam franchise ini.

Final Verdict:

Gameplay: 8
Gameplay LocoRoco yang begitu sederhana tapi juga begitu adiktif masih dipertahankan dalam game ini. SCEI juga memberikan sedikit tambahan seperti masuk dalam lubang, menyanyi bersama, dan beberapa update minor lainnya.

Graphic / Sound: 10
Ini adalah salah satu bagian tersolid dari LocoRoco. Dia memiliki tema design dan musik yang otentik. Bukan hanya anak-anak dan wanita yang jelas senang dengan dunia kaya warna dari LocoRoco, tetapi para cowo macho pun akan kagum akan dunianya.

Play Time: 7
Seperti ciri khas game platform lainnya, nilai tambahan utama dari LocoRoco terletak pada replayabilitynya. Ada begitu banyak collectible dalam game ini untuk mencapai ending sempurna (temukan semua LocoRoco, upgrade MuiMui Home, dan banyak lagi)

Overall: 8.3

Written by Si Tukang Review

December 30, 2008 at 10:26 pm

Posted in Handheld, PSP

Tagged with ,

The Top 15 Things That Makes You Wish 2009 Comes Faster

without comments

15. War in the Future (Movie: Terminator Salvation)
Franchise Terminator sudah memiliki tiga film layar lebar dan satu serial televisi, tapi tidak ada satupun yang memberikan gambaran detail dan konklusif mengenai masa depan suram manusia. Kini, Terminator Salvation tidak sekedar memberi kita bayangan masa depan – tetapi membawa kita di tengah perang besar antara manusia melawan mesin.

14. The Appearance of Legion (TV: Smallville)
Di luar dugaan, Smallville yang kehilangan Lana serta Lex justru memperoleh nafas segar di season baru ini. Dengan karakter-karakter baru, dinamika baru pun bisa tercipta. Hasilnya, Smallville akan segera kedatangan kawan-kawan Superboy dari masa depan; The Legion of Superheroes. Tebak siapa yang menulis skenarionya? Geoff Johns.

13. Konoha vs Pain (Manga: Naruto)
Perang Konoha melawan Pain kian membara. Korban sudah berjatuhan dari sisi Konoha, mulai dari Jiraiya hingga Naruto. Siapa lagi yang akan menjadi tumbal keganasan Pain? Fans berspekulasi mulai dari Ebisu, Tsunade, Konohamaru, bahkan Naruto sendiri. Saksikan akhir dari Konoha Attack ini di tahun 2009.

12. Blizzard Big Year (Game: Diablo III dan Starcraft II)
Ketika berita bahwa Diablo III dan Starcraft II (yang terbagi menjadi tiga game sesuai tiga ras yang ada) sudah digarap oleh Blizzard, people around the internet goes mad. Blizzard adalah sebuah nama yang menjadi jaminan mutu di dalam dunia PC Gaming. Setelah beberapa tahun terakhir sibuk dengan franchise Warcraft dan WoW, dua franchise besar Blizzard yang terlupakan siap melakukan comeback di tahun depan.

11. The Day Evil Finally Won Has Arrived! (Comic: Final Crisis)
Ya. Tewasnya Batman, hilangnya Superman, serta berbaliknya Wonder Woman pada kegelapan membuat DC kehilangan trinitas sucinya. Sebaliknya Darkseid selaku pemimpin Apokolips telah mendapatkan Anti-Life Equation dan mencuci otak seluruh dunia guna menyembah dia. Apa para superhero lain bisa menyatukan kekuatan untuk membalikkan keadaan? Or will there be one world under Darkseid?

10. The Grandest Battle (Manga: One Piece)
Perang besar yang konon menurut Oda-sensei akan mengguncang seluruh fondasi One Piece. Suatu hal yang diperlukan mengingat One Piece sudah terlalu lama berada pada kondisi status quo. Sebuah perang besar antara seluruh pasukan Admiral dan Whitebeard demi menentukan nasib Ace (ditambah Luffy dan kawan-kawan yang terjebak di tengahnya) jelas menjadi suguhan tersendiri untuk sepanjang tahun depan.

09. Akhirnya tahu dari mana Wolverine dapat kuku panjangnya itu (Movie: Wolverine)
Ketika film The Day The Earth Stood Still dirilis, orang berbondong-bondong datang tidak semata-mata untuk menonton Keanu Reeves saja tetapi untuk menonton trailer pertama dari Wolverine. Hasilnya menurut orang tidak mengecewakan. Dan bagi anda pecinta karakter Gambit – bersukacitalah. Akhirnya dia dapat kesempatan nongol juga di sini.

08. When Cobra Comes… Who’d You Call? (Movie: GI Joe)
Saya adalah seorang penggemar berat GI Joe. Ingat robot-robotan GI Joe (buat yang cowo dijamin mengerti apa yang saya maksud) yang sangat populer ketika kita SD dulu? Sampai sekarang pun saya masih punya satu yang setia menemani saya tidur. Sayang sangat sulit mencari action figure GI Joe yang baru – toh, saya rasa apabila filmnya dirilis tahun ini semuanya akan berubah.

07. HADOUKEN! (Game: Street Fighter IV)
Street Fighter punya kebiasaan buruk. Setiap kali merilis seri baru jedanya selalu lama bukan main. Berapa lama semenjak terakhir kali kita mendengar ada Street Fighter baru (tanpa embel-embel Championship Edition, bla-bla Edition) keluar? Kendati begitu dari trailer dan demonya, nampaknya penantian lama kita akan lunas terbayar. Street Fighter IV looks gorgeous!

06. A Neverending Journey (Game: Final Fantasy XIII)
Final Fantasy tidak punya sekuel dan selalu berdiri sendiri? Ah, itu mah dulu. Semenjak Final Fantasy X, Square-Enix memutuskan untuk mengkapitalisasi nama besar Final Fantasy. Walhasil Final Fantasy X dan XII masing-masing sudah memiliki sekuelnya. Toh, tidak ada proyek seambisius Final Fantasy XIII yang konon bakal langsung dirilis beberapa versinya secara simultan.

05. What is Gantz? (Manga: Gantz)
Selama lebih dari 5 tahun lamanya pembaca setia manga Gantz terus dibawa mengikuti petualangan para orang mati yang berusaha mengumpulkan angka untuk hidup kembali. But now that kedua tokoh utama dari Gantz sudah hidup kembali, the new question arise. What is Gantz actually? Kenapa ada sebuah pabrik di Jerman yang memproduksi Gantz secara massal? Apa keberadaan Gantz sesungguhnya mempersiapkan kita untuk sebuah rencana yang lebih besar?

04. Blasting Zombie’s Head (Game: Resident Evil 5)
Kalau anda merasa bahwa Resident Evil 4 adalah wajah baru dari dunia survival horror-nya Capcom… anda salah. Lihat trailer dari Resident Evil 5, ganas dari para zombie (masih bolehkah kita menyebutnya zombie?) yang bergerombol untuk mengepung, menyerbu dan menghabisi anda rasanya bisa membuat anda terkencing-kencing ketakutan saat memainkannya malam hari nanti.

03. Lost Season 5 Premiere (TV Series: Lost)
Satu hal yang membedakan Lost dengan serial TV lain yang ada di pasaran saat ini adalah Lost memiliki tujuan. Ketika JJ Abrams menulis Lost, ia tahu dengan persis bagaimana kisah ini akan dibuka, dibawa, dan diakhiri. Hasilnya; kendati ada kalanya Lost terasa kedodoran, tapi tak bisa dipungkiri bahwa dia masih salah satu TV series paling berkualitas yang tersaji di layar kaca.

02. Beware… for the Dead Shall Rise Again (Blackest Night)
Semenjak akhir dari Sinestro Corps War di tahun 2007, satu-satunya event yang paling dinanti-nantikan oleh penggemar komik tidak lain dan tidak bukan adalah Blackest Night. Akhirnya sebuah crossover besar DC yang tidak melulu berpusat pada Superman, Batman, dan Wonder Woman… Blackest Night memfokuskan pada kisah para Green Lantern menghadapi para Lantern spektrum cahaya lain. Yellow represents Fear. Red represents Rage. And Black? It represents Death. This, my friend, is the Star Wars of comic. Beginning with Green Lantern Rebirth in 2005, continuing with Sinestro Corps War in 2007 and ends with the Blackest Night next year. What more can you ask for?

01. Transformer 2 and Watchmen
Maaf saya sedikit curang dengan memasukkan dua film di spot teratas. Apa boleh buat. Saya kesulitan untuk memilah mana di antara keduanya yang lebih layak mendapatkan tempat teratas. Transformer 2 Rise of the Fallen merupakan sekuel dari smash hit tahun 2007. Prepare for more robots (and more Megan Fox hotness)! Dan Watchmen? Ini adalah sebuah film yang anda dapat ketika sutradara 300 menggarap komik yang disebut sebagai tonggak permulaan komik modern. Superman defines the Gold Age. Spider-man defines the Silver Age. And Watchmen defines the Modern Age. Oh, sudah saya katakan kalau dia adalah komik karangan Alan Moore yang adalah sesepuh komik?

Honorable Mention:
- The Death of Dumbledore (Movie: Harry Potter and the Half Blood Prince)
- Heath Ledger Final Movie (Movie: The Imaginarium of Doctor Parnassus)
- VS The Deathbringers (Manga: Bleach)
- Elementary, My Dear Watson (Movie: Sherlock Holmes)
- A Very Dark Marvel (Comic: Dark Reign)

Written by Si Tukang Review

December 29, 2008 at 1:37 pm

Posted in Others

Tagged with

[Movie] Indiana Jones and the Kingdom of Crystal Skull

without comments

Indiana Jones and the Kingdom of Crystal Skull

Indiana Jones and the Kingdom of Crystal Skull

Director: Steven Spielberg
Artist: Harrison Ford, Shia LaBeouf, Cate Blanchett
Running Time: 122 Minutes

Setelah The Last Crusade tayang hampir 20 tahun yang lalu, banyak orang merasa bahwa ini adalah akhir dari petualangan panjang Indiana Jones (itulah kenapa ada kata ‘Last‘ di judulnya). Tahun demi tahun berlalu, orang mulai mempergunjingkan kembali hadirnya Indy di layar lebar. Apa yang berawal dari rumor pada akhirnya menjadi kenyataan ketika Steven Spielberg, George Lucas, dan Harrison Ford memberikan statemen resmi bahwa mereka akan menggarap lanjutan dari trilogi Indiana Jones. Tahun ini Indiana Jones kembali berpetualang – tapi apakah petualangannya masih relevan untuk jaman sekarang?

Film ini dibuka dengan adegan tertangkapnya Indy dan asistennya Mac oleh para tentara Uni Soviet. Masa film ini adalah masa perang dingin antara Amerika dan Uni Soviet dan Irina Spalko – seorang jendral Uni Soviet – percaya bahwa perang psikis adalah cara yang akan membuat Uni Soviet memenangi perang dingin. Kunci keberhasilan dari rencana jahat cuci otak Irina ini ada pada sebuah tengkorak kristal misterius. Artifak aneh ini yang nantinya diambil oleh Indy sebelum meloloskan diri dari kejaran Irina. Tengah mempelajari tengkorak ini lebih lanjut, Indy dimintai tolong oleh seorang bocah berandalan bernama Mutt Williams. Mutt meminta Indy membantu menolong ibunya. Nah, siapa sebenarnya ibu Mutt? Apakah Indy bisa menemukan rahasia di balik tengkorak kristal itu? Ke mana petualangan Indy kali ini akan membawanya?

Saya termasuk orang yang paling antusias mendengar berita bahwa Indiana Jones akan digarap lagi. Maklum saja, ketika film Indiana Jones terakhir dirilis pada tahun 89 dulu, saya masih 5 tahun dan tidak mengerti apa-apa. Film ini mungkin adalah kesempatan terakhir saya untuk menikmati petualangan Indy di layar lebar! Oleh karenanya, saya dengan sengaja menghindari semua berita mengenai film ini; tujuannya jelas; supaya ketika saya menonton nanti saya bisa tetap terkejut dengan apa yang siap dilempar oleh Lucas dan Spielberg padaku. Betapa kecewanya saya ketika film ini ternyata melempem.

Serial Indiana Jones selalu disebut sebagai film yang berjalan cerita kelas B yang classy. Dalam artian, penuh plot hole, penuh hal-hal yang mustahil, tetapi tetap fun dan menarik untuk diikuti. Itulah yang saya harapkan ketika menonton Kingdom of Crystal Skull, sialnya sihir magis dari Lucas hilang entah ke mana. Kingdom of Crystal Skull jadi benar-benar film kelas B yang jalan ceritanya kampungan tapi tertolong dengan budget raksasa. Jalan cerita dalam film ini sangat simpel, twist yang disodorkan pada kita bukannya mengagetkan malah terasa basi dan tertebak.

Setidaknya film ini masih tertolong dengan akting para pemainnya. Harisson Ford tampil prima sebagai Indiana Jones yang sudah uzur, Cate Blanchett mencuri perhatianku dengan aksen Uni Sovietnya yang tajam, Karen Allen menghadirkan nuansa nostalgia (bagi yang lupa, Allen adalah artis yang dulu memerankan Marion Ravenwood dalam Raiders of the Lost Ark), terakhir Shia LaBeouf mewakili generasi muda masa kini – kendati penampilannya masih kedodoran dibandingkan dengan senior-senior yang mendampinginya.

The Kingdom of Crystal Skull masih sebuah petualangan Indiana Jones yang cukup mengasyikkan; hanya saja, ia jelas tidak sebaik trilogi pertama petualangan Indy, karena itu – turunkan ekspektasi kalian, ambil cambuk itu, dan bersiaplah berpetualang bersama Indy begitu film ini dimulai.

Score: 6

Written by Si Tukang Review

December 27, 2008 at 8:31 am

Posted in Motion Picture, Movie

Tagged with

[Comic] Trinity

without comments

Trinity Promotional Artwork

Trinity Promotional Artwork

Writer: Kurt Busiek
Penciller: Mark Bagley
Publisher: DC Comics

DC Comics adalah salah satu penerbit komik utama selain Marvel Comics; karena itu bukan hal yang mengherankan bahwa mereka adalah rumah dari karakter-karakter besar. Siapa yang tidak kenal karakter Green Lantern, Flash, Aquaman, dan banyak lagi superhero lainnya? Toh, kendati ada begitu banyak nama tenar lahir dari penerbit ini, tiga karakterlah yang disebut-sebut sebagai pendefinisi dari dunia DC: Superman, Batman, dan Wonder Woman.

Menurut Kurt Busiek – penulis yang menggarap Trinity – beranggapan bahwa ketiganya memiliki unsur-unsur yang saling berkaitan:

  • Superman mendapat energinya dari cahaya matahari, Batman beroperasi di bawah terang malam bulan, dan Wonder Woman dibentuk dari tanah sebelum dihembusi nafas kehidupan oleh para dewa.
  • Superman disebut sebagai man of tomorrow (manusia hari esok), Batman melawan kejahatan masa kini, dan Wonder Woman adalah representasi legenda masa lampau para dewa.
  • Superman selalu menolong siapa saja tanpa pamrih, Batman menggunakan rasa takut untuk melawan penjahat, sementara Wonder Woman mendorong orang menemukan dan mencapai potensi dalam dirinya.

Dan contoh-contoh ini ditutup dengan sebuah kesimpulan yang tak terbantahkan oleh Busiek: DC Universe direpresentasikan oleh ketiga pilar ini, cabut satu di antara mereka – atau malahan hancurkan ketiganya maka fondasi dari DC pun akan goyah. Hal ini jelas terbukti tiga tahun silam. Ketika ketiga superhero ini tidak bisa menyatukan pendapat mereka; Infinite Crisis mengguncang DC. Kurt Busiek berusaha menggali potensi ini lebih jauh dalam serial mingguan ketiga DC.

Serial mingguan?

Benar. Setelah 52 (yang sukses besar) dan Countdown (yang gagal total), DC merasa bahwa potensi pasar komik mingguan belum tergarap secara maksimal. Ada satu kekurangan besar ketika saya membaca 52 dan Countdown; keduanya menghadirkan superhero kelas C dan D ketimbang memasukkan nama-nama besar. Hal ini rupanya diperhatikan oleh DC, dan di Trinity mereka bukan sekedar memasukkan nama besar semata tetapi menghadirkan ketiga jagoan utama mereka (mungkin demi bersaing dengan Marvel yang merilis Spider-man tiga kali sebulan?)

Format dalam Trinity sedikit berbeda dengan kedua pendahulunya. Apabila 52 dan Countdown mengambil beberapa karakter dan menceritakan perkembangannya sedikit demi sedikit, Trinity akan dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama adalah cerita utama di mana Busiek menulis cerita sementara Mark Bagley (mantan artis dari Ultimate Spider-man) mengerjakan penggambarannya. Bagian pertama ini akan menjadi inti cerita dari Trinity. Bagian kedua akan menjadi back story / pelengkap dari cerita utama dan tim yang mengerjakannya pun bukan duo Busiek – Bagley.

Kendati premise ceritanya menjanjikan, jujur saja saya merasa bahwa saat keluarnya Trinity sekarang tidak tepat. 52 dan Countdown mengambil setting waktu yang jelas. 52 menjembatani kejadian antara Infinite Crisis dan One Year Later, sementara Countdown menghitung mundur terjadinya Final Crisis (kendati karena gagal semua even dalam Countdown hampir dianggap tidak terjadi). Masalah utama dari Trinity adalah Busiek secara tegas mengatakan kalau apapun yang terjadi dalam Trinity tidak akan berpengaruh pada titel lain terbitan DC. Hasilnya jadi aneh; apabila sekarang Batman dikabarkan hilang dalam RIP, Trinity menunjukkan dia masih sibuk memberantas kejahatan, Superman juga tengah disibukkan kedatangan 100.000 Kryptonian ke Metropolis tetapi hal ini sama sekali tak disebut dalam Trinity. Paling parahnya adalah Final Crisis (yang adalah even terbesar DC tahun ini) juga tengah berlangsung. Kesalahan toh bukan terletak di pundak Busiek selaku penulis tetapi lebih pada eksekutif DC yang tidak becus mengatur timeline mereka.

Pada akhirnya, bagi mereka yang mau mengikutinya; sekarang belum terlambat karena Trinity baru mau memasuki setengah jalan. Baca serial ini dan sadarlah kenapa Superman, Batman, serta Wonder Woman disebut sebagai superhero/ine terbesar dunia DC.

Score: 6.5

Written by Si Tukang Review

December 26, 2008 at 5:09 pm

Posted in Comic, Graphic Novel

Tagged with

[DS] Little Red Riding Hood’s Zombie BBQ

without comments

Zombie BBQ Cover

Zombie BBQ Cover

- ketika virus zombie menyerang dunia dongeng

Publisher: Destineer
Developer: EnjoyUp
Genre: Rail Shooter

Apabila ada satu game yang layak disebut sebagai kejutan tahun ini; Zombie BBQ-lah gamenya. Game ini dibuat oleh developer EnjoyUp (developer baru dari Spanyol) dan merupakan game bergenre rail shooter (salah satu genre langka di mana karakter anda hanya bisa bergerak ke kanan kiri sambil menembaki musuh yang datang dari depan). Genre yang tidak umum ini diperkuat dengan tema sinting dan gameplay yang benar-benar seru. Jadilah Zombie BBQ sebuah game yang menawan dan berhasil mengejutkan saya yang tadinya sekedar iseng-iseng memainkannya.

Red Riding Hood menyangka kalau semua mimpi buruknya sudah berakhir ketika ia dan si tukang kayu menghabisi serigala jahat dan menyelamatkan sang nenek. Sangkaannya itu salah besar. Masalah yang lebih besar baru akan muncul! Sesaat setelah sang tukang kayu meninggal dunia dan meninggalkan Red sendiri, para orang mati bangkit kembali dari kubur. Mereka berubah menjadi zombie-zombie yang haus darah dan menghabisi makhluk-makhluk negeri dongeng. Red ditemui seorang tokoh legenda timur bernama Momotaro yang juga ingin tahu kenapa bencana ini bisa terjadi. Keduanya segera berpetualang dari satu negeri dongeng ke negeri dongeng lainnya sambil menembaki zombie apapun yang merintangi jalan mereka!

Gameplay Zombie BBQ sebenarnya sederhana dan tidak berbeda dengan game serupa. Kamu bisa memilih untuk menjadi Red atau Momotaro (perbedaan keduanya hanya sekedar beda kostum semata tanpa perbedaan gameplay, senjata maupun variasi alternatif senjata yang bisa didapat sama saja). Dalam permainan, kamu diberi area bergerak kanan dan kiri sebanyak tujuh grid (kotak). Nah, para zombie (segala jenis; mulai zombie tradisional, zombie gendut, sampai zombie yang suka melempar tengkorak!) akan muncul dan menganggu perjalananmu. Jelas tujuanmu hanya dua: mengembalikan mereka yang sudah mati kembali ke liang lahat, sembari mencari tahu bagaimana bencana ini bisa terjadi.

Yang membuat permainan dalam game ini menjadi sangat menantang adalah duel melawan para boss-nya. Semua bossnya dijamin merupakan karakter legenda yang anda kenal. Tingkat pertama misalnya menghadapkan Red dengan sang nenek yang sudah berubah menjadi zombie sementara boss tingkat berikutnya memaksamu berhadapan dengan Gretel yang karena sudah buas memangsa Hansel saudaranya sendiri! Nampaknya para tokoh dongeng sekalipun sudah terkontaminasi virus ini. Tentu saja sekedar menjual nama besar sosok tokoh legenda tidak cukup; yang menjadikan para bossnya begitu memorable adalah karena mereka musuh-musuh yang sulit ditaklukkan – tetapi bisa ditaklukkan. Kamu bisa jadi berulang kali mati saat melawan boss, tetapi bakalan ingin mengulangnya karena tahu kalau boss yang disediakan game ini menantang, bukannya mustahil, untuk dikalahkan.

Animasi dalam game ini juga cukup jempolan karena berhasil menggabungkan unsur 2D dan 3D juga menampilkan berbagai jenis zombie. Arena dalam game sesekali terasa hambar (kebanyakan bernuansa kuburan) walaupun EnjoyUp berusaha memasukkan variasi-variasi pada tiap stagenya. Musiknya bernuansa rock campur metal yang memang cukup pas mengiringi ceritanya yang nyeleneh.

Saya sudah menyebutkan di atas bahwa Zombie BBQ adalah sebuah game kejutan tahun ini. Mereka yang gemar dengan gameplay old school dan kangen dengan game shooting up-scroller (bukan side-scroller ala Contra) tidak boleh melewatkan Zombie BBQ. Kapan lagi kita bisa melihat sosok Red Riding Hood yang selalu digambarkan lemah lembut membawa pistol dan tidak kalah (mungkin malah lebih) gahar seperti Lara Croft?

Final Verdict:

Gameplay: 8.5
Tema yang menarik digabungkan dengan gameplay old school. Siapa sangka formula ini bisa menghadirkan game yang begitu mengasyikkan?

Graphic / Sound: 8
Kendati bukan nilai terkuat dari game ini, sisi audio visualnya tergarap secara baik. Suara Red Riding Hood pun entah kenapa terdengar macam suara Arnold Schwarzenegger versi wanita (bisa kebayang?).

Play Time: 8.5
Walau untuk memainkannya sekali sampai tamat tidak seberapa panjang, tetapi game ini menantang untuk dimainkan berulang-ulang kali. Sayang; seandainya saja ada fungsi co-op dalam game ini saya takkan sungkan memberinya nilai sempurna.

Overall: 8.3

Written by Si Tukang Review

December 25, 2008 at 4:58 pm

Posted in DS, Handheld

Tagged with ,

The First Post

without comments

Setelah beberapa minggu memikir-mikir dan menimbang-nimbang… gw memutuskan untuk akhirnya hijrah dari Multiply ke WordPress.

Alasan gw buat pindah sebenarnya sederhana aja. Gw ngeliat kalau di Multiply, gw kesulitan buat memonitor statistik web gw. Ga jelas siapa aja yang datang, ga jelas siapa aja yang komentar, ga jelas juga siapa yang baca. Walhasil, review-review gw rasanya mubazir.

Tadinya gw males buat pindah dari Multiply. Enak sih posting di sana. Mau review tinggal posting sesuai templatenya. Gampang abis buat posting. WordPress jelas ga bakal segampang itu, bakalan lebih rumit. And bakalan lebih makan waktu buat edit di sana-sini. Walau gitu, gw rasa sih kerumitan tambahan itu bakalan worth it – karena itu juga ngasi gw fleksibilitas buat menentukan gimana tampilan yang gw inginkan buat situs gw.

Walau begitu, tolong jangan samakan situs baru ini ama Multiply gw yang lama (itu juga alasan kenapa gw ga mau memakai alias lama gw buat di sini). Situs ini ga akan memuat macam-macam cerita mengenai diri gw. Nope – no such thing. Di sini lu cuma bakalan menemukan review movie, game, komik, whatever dari gw. Only artikel and review. No other bullshit. I guarantee you that.

Written by Si Tukang Review

December 25, 2008 at 4:56 pm

Posted in General