Rumah Si Tukang Review

a review a day takes your curiosity away

Archive for January 2009

We’re Closing… (And Moving)!

with one comment

——–
25 December 2008 – 23 January 2009

50 Reviews
429 Hits

First Review: Zombie BBQ
Last Review: The Lord of the Rings: Conquest

Sayonara http://tukangreview.wordpress.com
——–

Yap. inilah posting terakhir buat situs blog gw.

Setelah sebulan menggarap Tukang Review, mengupdatenya setiap hari, gw memutuskan bahwa inilah saatnya untuk menutupnya. Gw berterima kasih banyak kepada dukungan dari kalian semua yang sudah singgah ke website ini.

Percaya deh, komentar dan kedatangan kalian ke website ini berarti banyak bagiku dan memberiku semangat untuk tetap mengupdatenya. Sebelum gw menutup situs ini, ijinkan gw secara khusus menghaturkan terima kasih sedalam-dalamnya kepada:

- Dozus: Terima kasih karena sudah bersamaku untuk membangun situs ini. Dozus juga menggarap Jurnal Game yang gw percaya merupakan salah satu insigh lokal terbaik tentang dunia industri game.
- Bangmupi & Pinkan: Kepada Bangmupi dan Imoet Gamer yang sering singgah, memberi komentar, dan membaca blog gw. Terima kasih, dan aku juga selalu enjoy membaca blog kalian loh.

Dan kepada semua pengunjung lainnya… terima kasih.

Sekarang, untuk situs baru yang sudah gw siapkan: Rumah (Baru) Si Tukang Review . Apabila anda-anda sekalian sudah menikmati situs ini, silahkan bookmark situs Tukang Review yang lahir kembali tersebut. Situs tersebut juga dibangun dan ditata dengan engine WordPress, hanya saja menggunakan theme yang berbeda. Saya berharap dengan memiliki domain sendiri akan lebih memudahkan pengunjung mengingat dan membookmark situsku.

As always; a review a day keeps your curiousity away. See you in the new website.

PS: Inilah perubahan yang semula saya jadwalkan terjadi tanggal 1 Februari 2009 – tapi terkadang, ada hal yang harus terjadi lebih dahulu di luar rencana. ^^

Written by Si Tukang Review

January 22, 2009 at 3:46 pm

Posted in Others

Tagged with , ,

[360] The Lord of the Rings – Conquest

without comments

LoTR Conquest Cover

LoTR Conquest Cover

Publisher: Electronic Ars
Developer: Pandemic Studios
Genre: Action

Walaupun trilogi The Lord of the Rings sudah berakhir sejak tahun 2003 dulu, masih banyak pihak merasa bahwa franchise ini bisa meraup untung (apabila dengan diumumkan bahwa prekuelnya: The Hobbits akan dibuat). Enam tahun kemudian, sebuah video game baru dengan sub-titel: Conquest dirilis oleh publisher EA. Yang membuat Conquest berbeda dengan game-game lainnya, adalah game ini memperbolehkan gamer bermain dari dua pihak; pihak kebaikan di bawah pimpinan Gandalf dan pihak kejahatan di bawah sang kegelapan Sauron itu sendiri. Memainkan pihak kebaikan akan mengikuti cerita Lord of the Rings baik novel maupun film yang sudah kita kenal (dengan beberapa tambahan skenario khusus untuk gamenya), tetapi memainkan pihak kejahatan di bawah Sauron akan memiliki jalan cerita yang sangat berbeda karena gamer bermain dengan tujuan menghancurkan – bukannya menyelamatkan – Middle Earth.

Dalam setiap mode campaign, Conquest memperbolehkan memilih empat job yang ada: Scout, Warrior, Archer, dan Mage. Keempat job ini memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Scout misalnya jago dalam mengendap dan memiliki kecepatan lebih tinggi dibandingkan karakter lainnya. Pemakaian Warrior dan Archer juga berbeda karena Archer lebih berperan sebagai backup yang memanahi musuh dari kejauhan sementara Warrior langsung maju berhadapan dengan mereka secara frontal. Bagi mereka yang belum terbiasa, saya sarankan memakai job Warrior yang memiliki pertahanan dan stamina lebih kuat dibandingkan karakter lain. Game ini juga menawarkan opsi untuk bermain sebagai ‘hero’ di saat-saat tertentu. Siapakah Hero? Mereka adalah karakter-karakter yang sudah kalian kenal melalui trilogi LoTR. Dalam pihak kebaikan misalnya, mengijinkan anda memainkan Aragorn, Eowyn, Gimli, Legolas, Gandalf, dan banyak lagi. Sebaliknya pihak kegelapan memiliki Balrog, Nazgul, Saruman, sampai sang Sauron itu sendiri.

Campaign Solo dalam game ini tergolong cepat selesai. Masing-masing skenario kira-kira hanya memerlukan waktu lima hingga enam jam untuk selesaikan. Artinya, untuk menyelesaikan kedua skenario utama game tidak akan memakan waktu lebih dari 15 jam. Conquest tergolong mudah dimainkan Solo mengingat setiap kali kamu mati, tidak ada penalti dari gamenya. Kamu bahkan diijinkan untuk respawn (hidup kembali) dalam sekejab. Ini berarti melawan bos yang kuat sekalipun terasa mudah. Apabila kamu salah memilih job untuk melawannya, kamu bisa menjajal melawan bos yang sama dengan menggunakan job lain. Satu-satunya perkecualian adalah ketika kamu mati menggunakan Hero – karena Hero tidak bisa hidup kembali dalam campaign yang sama. Satu-satunya kekalahan yang mungkin kamu derita adalah bila kamu gagal menyelesaikan misi yang diberikan game kepadamu (biasanya mempertahankan atau merebut sebuah wilayah dari musuh).

Conquest memang bukan game yang didesign untuk kamu mainkan seorang diri. Game ini memiliki fitur online dan co-op yang bisa menampung sampai 16 orang bermain bersamaan. Kamu bakalan saling melindungi, mengepung musuh yang lebih kuat raksasa, bahu-membahu memenangkan, atau malahan saling beradu dalam campaign-campaign yang ada. Kala bermain bersama itulah baru benar-benar terasa serunya Conquest.

Final Verdict:

Gameplay: 8.0
Tiap job memiliki kemampuan yang berbeda. Mencoba menguasai tiap job yang diberikan merupakan tantangan tersendiri – tetapi itu baru awalnya. Beradu dan bekerja sama dalam campaign dan variasi multiplayer game.

Graphic / Sound: 8.5
Sebagai game LoTR yang hadir untuk konsol current-gen, grafis Conquest sangat tajam dan berhasil merender 3D dunia Middle Earth. Suaranya juga diperhatikan oleh EA yang mengontrak Hugo Weaving sebagai narator kisah.

Play Time: 9.0
Conquest tidak akan bosan-bosan kamu mainkan, dengan satu syarat: multiplayer. Setelah 15 jam pertama kamu selesaikan dengan memainkan Campaign Solo (dan menguasai karakter-karakter yang disediakan), memainkan ulang game ini di dunia online maupun co-op bersama teman-temanmu akan membuatmu enjoy memainkan Conquest selama puluhan jam ke depan.

Overall: 8.5

Written by Si Tukang Review

January 22, 2009 at 9:49 am

Posted in 360, Console

Tagged with , , , , , ,

[DS] Rune Factory 2

without comments

Rune Factory 2 Cover

Rune Factory 2 Cover

Developer: Neverland Co
Publisher: Marvelous & Natsume
Genre: Simulation

Harvest Moon merupakan salah satu game simulasi RPG yang unik. Kendati tak pernah diterima kalangan mainstream gamer, genre ini tetap bisa bertahan sampai lebih dari 10 tahun dengan ciri permainan yang sama (stagnan?); sebagai seorang anak muda, gamer diharuskan bercocok tanam, lantas berusaha memenangkan hati para gadis dan penduduk kota setempat. Tetap stagnan selama bertahun-tahun nampaknya membuat para gamer bosan, dan membuat Neverland sebagai developer sadar bahwa mereka harus mengubah konsep ini supaya gamer tetap mau terus bertani.

Dari tangan Yoshifumi Hashimoto, Rune Factory pun hadir. Diberi tajuk A Fantasy Harvest Moon, game ini dipuji oleh banyak kritikus game karena dianggap berhasil menyegarkan konsep lama Harvest Moon tanpa membuatnya kehilangan ciri khas itu. Melihat sukses yang luar biasa itu, Rune Factory 2 pun dipersiapkan oleh Natsume dan dirilis pada tahun 2008 (tahun 2007 apabila di Jepang).

Gameplay dalam Rune Factory 2 masih mengikuti pakem dari game pertamanya. Kali ini settingnya tidak lagi di Kardia Village, tetapi berpindah ke desa bernama Alvarna. Karakter utamanya pun bukan Ragna (Laguna) tetapi Kyle. Setelah intro ‘tradisional’, kamu pun diperbolehkan mulai mengolah lahan. Dalam jam-jam pertama saya bermain Rune Factory 2, saya sedikit kecewa akan perubahan yang dibuat oleh Natsume. Dungeon yang dulunya begitu banyak dan beraneka ragam di game pertamanya kini dibatasi menjadi empat (sesuai dengan musim). Tool yang kamu pakai juga merupakan tool upgrade sehingga di awal game saya malah merasa kekurangan kerjaan dan kebanyakan waktu luang.

Rune Factory 2 juga memasukkan sistem misi dalam game ini. Kini, kalau kamu tengah bosan bertani (dan percayalah, jam-jam awal akan sangat membosankan untuk bertani), kamu bisa menjalankan misi-misi dari para penduduk desa. Sayangnya, kebanyakan dari misi ini hanya menugaskan anda pergi ke sebuah tempat, mengambil barang tertentu, lantas mengantarkannya kembali kepada orang yang meminta pesanan. Toh, setidaknya ini memberi variasi dialog dengan penduduk desa dan membuat interaksi dengan para penduduk desa terasa lebih hidup – suatu hal yang tak dimiliki oleh kebanyakan game Harvest Moon.

Konsep dasar Rune Factory dikenal dengan sistem Rune Point sebagai pengukur staminamu pun kembali dalam game ini. Selain memiliki health bar, karaktermu memiliki rune bar di bawahnya. Setiap kali kamu menebaskan pedang, mencangkul sawah, atau menyiramnya, maka rune bar itu akan berkurang sedikit demi sedikit. Kalau rune bar itu sudah habis, maka health barmu lah yang akan berkurang. Nah, apabila health barmu sudah habis, maka karaktermu akan pingsan (atau mati kalau ia dalam dungeon). Mengisi rune bar bisa dilakukan dengan dua cara, mandi di pemandian air panas atau mendapatkan rune energy (dari tumbuhan yang kamu tanam).

(SPOILER ALERT)

Kejutan sesungguhnya tiba setelah kamu berpindah generasi. Kali ini, apabila kamu memiliki anak, ia takkan hanya menjadi seorang bayi seumur hidup, tetapi kamu akan diberi kesempatan untuk mengendalikannya. Bahkan, di generasi kedua inilah gameplay Rune Factory 2 sesungguhnya baru terbuka seluruhnya. Dungeon yang tadinya terbatas kini bisa kamu eksplorasi dengan bebas, sistem memasak dan menciptakan senjata pun baru terbuka di era ini.

(SPOILER END)

Grafis dalam Rune Factory 2 masih seindah pendahulunya. Campuran goresan tangan 2D sebagai latar siapa sangka bisa menyatu dengan karakter render 3D yang berlarian dan berjalan-jalan di dalamnya? Pun dengan musik game ini, saya pribadi lebih menyukai variasi musik dalam game ini ketimbang Rune Factory pertama, rasanya musiknya lebih pas dan kena dalam menjiwai musim yang tengah kamu lalui.

Rune Factory 2 tidak memberikan revolusi besar pada franchise Harvest Moon seperti yang telah dilakukan pendahulunya. Kendati begitu, ia tetap memberikan cukup banyak perbedaan serta perbaikan untuk menjadikannya penerus yang layak (tetapi tidak lebih baik) dari nama Rune Factory.

Final Verdict:

Gameplay: 8.0
Konsep dasar yang sudah apik ini dicoba disempurnakan lagi oleh Neverland. Yang saya sayangkan adalah dihilangkannya beberapa aspek lama (seperti dungeon yang banyak) untuk dimasukkannya beberapa aspek baru (sistem generasi dan misi).

Graphic / Sound: 8.5
Satu-satunya kekurangan yang saya bisa cari dari bagian ini adalah penggunaan voice acting di sana-sini yang kurang pas dengan suasana game secara keseluruhan. Lain dari itu, Rune Factory akan menakjubkan anda dengan keindahan audio-visualnya.

Play Time: 7.3
Game ini akan terasa sangat membosankan di awalnya karena kamu seakan tidak tahu mau mengerjakan apa. Toh, setelah beberapa jam pertama, opsi-opsi baru akan makin terbuka, sehingga bersabarlah. Rune Factory 2 bisa anda mainkan selama anda mau dan tidak bosan, tetapi menyelesaikan cerita utamanya membutuhkan waktu kurang lebih 20 – 30 jam.

Overall: 7.9

Written by Si Tukang Review

January 21, 2009 at 9:50 am

[DS] Princess Debut (English)

without comments

Princess Debut Cover

Princess Debut Cover

Developer: Cave
Publisher: Natsume
Genre: Simulation

Introduction

I believe most people think looking for a date in a game is kind of strange, creepy and pathetic. This might be the reason most dating simulation game (a genre that is hugely popular in Japan) always fail to find audience out of its native country. However, as the Japanese culture gain more and more popularity in the recent years, Natsume decided to release a hybrid of dating simulation-rhythm game in the NDS. Its title; Princess Debut shows that this game tries to attract young female gamer. Can they manage to do so?

Gameplay

There is two aspects of Princess Debut. You are a Princess in this game and you will need to woe one of the six eligible bachelors in the game. The game main objective is to find a partner by having daily communications with the princes; you will also need to practice dancing with your dance partner.

The first mode of this game is the ‘Dating Simulation’ mode. Every day, you are given the opportunity to travel around the Flower Kingdom. The princes’ locations in this game are random – if you can’t find anything interesting in a location, you can move along and try to search in another location. Once you find a prince, you are given the opportunity to talk and get to know them better. The princes in this game have their own distinct personality, so choosing the right answer according to their personality shall raise their affection to you. Don’t worry, it’s not as hard as it seems. As long as you play being a ‘good girl’ and politely answer all of those princes’ answers, you’ll have their affection to you rising to 100% in no time.

The second part is the ‘Rhythm Game’ mode. Once you arrive in the Flower Kingdom, you will soon learn that you need to dance in the Ball of St. Lyon. You can start your training with one of the princes that will be your partner in the Ball. The dance part itself is quite simple; all you need to do is follow the path shown in your lower screen. If you ever play rhythm based game like Osu! Tatakae! Ouendan or Elite Beat Agent, this part will be a piece of cake for you. The movements in the dance are pretty simple and most of you will achieve the perfect status in one or two attempts. Dancing and mastering a song will raise your level. Higher level gives you a higher charm and more stamina to perform another dance. Once your level is enough, new dance moves will be available to try.

As a game geared for the female audience, the game allows you to transform (think of a Sailormoon like transformation) by using accessories. The accessories can be obtained by dating certain princes, raising your level, or by simply winning a dance competition.

Story

One day, Sabrina (you can change her name) wishes to be a princess surrounded by princes. She never thought that her dream is about to come true. When she went home from school, there’s suddenly a vortex in her room. And POP! From the cupboard comes out a girl that looks exactly like her and a strange animal that could talk. The girl quickly introduced herself to be the Sabrina from the other world, here’s the surprise (not): she is the princess of Flower Kingdom. It appears that Sabrina the Princess is having some trouble dancing and decided to escape to normal Sabrina’s world.

Soon, Sabrina agrees to exchange places with the princess. Anyway, it’s like a dream come true. She gets to be a princess and dances with handsome princes around her. Once Sabrina arrives in the other world, Kip (the talking animal that accompany Princess Sabrina) informs her that she needs to find a partner for the big dance ceremony: the Ball of St. Lyon. She is given one month to prepare for her dance. Thus begin the ‘princess days’ for Sabrina.

Graphic / Sounds

The graphic is really shoujo-ish (girlish). Most of the artwork are okay (not superb, but it does have a unique style compared to most games). My complain for the graphics mainly came from the dancing part. Instead of using hand-drawn animation, the game developer decided to use very-very-very bad 3D animation. It’s horrible to see the pretty Sabrina and the handsome princes suddenly turn into ugly 3D characters with huge eyes once they start to dance.

The sound is a big turnoff as well. Most of Japan’s dating simulation games include the voice acting of the character. Princess Debut does not even have any voice acting at all (not even snippets!). The music for the dance is subpar at best, and the extensive use of classical music will mostly turn most gamers away from playing the game.

Play Time / Replayability

There is a lot of reasons to re-play Princess Debut. It is impossible for you to collect all the accessories and all the songs in the first playthrough. You need to replay the game for five times to marry all the five bachelors. In fact, the game actually introduces you with the sixth bachelor only after you finish the game once! That said, the monotone dancing aspect of the game might make some people avoid replaying the game.

I have played this game twice (and ended up with different princes as well) and my total play time did not exceed 10 hours. There is really not much to do in Princess Debut (other than talking to your prince or dancing with him) and I think that this is such a wasted opportunity. If only the game developer inserted challenging mini-games or make the conversations livelier, I think it will give people more reasons to come back play Princess Debut.

Final Recommendation

I really cannot recommend this game for anyone. For dating simulation lover, there are a lot of Japanese dating simulation games far much better (with more dialogue option and better character personality) than Princess Debut. For rhythm based game lover, it’s better to try Osu! Tatakae! Ouendan series or Elite Beat Agent which definitely offers you more action and fun. Princess Debut tried its best to combine the best of two worlds, but sadly, it fails miserably.

Score: 3

Written by Si Tukang Review

January 20, 2009 at 9:35 pm

Posted in DS, Handheld

Tagged with , ,

[Movie] My Top 10 Steven Spielberg Movie

with 5 comments

- a tribute to one of the greatest director of our time -

Saya rasa hampir setiap penggemar film pernah mendengar atau menonton film garapan Steven Spielberg. Sepanjang 30 tahun lebih berkarya, Steven Spielberg telah menghadirkan puluhan film-film monumental sepanjang sejarah. Banyak orang menganggapnya sebagai salah seorang dari tiga sutradara ‘terbesar’ bersama James Cameron (Titanic, Terminator) dan George Lucas (Star Wars). Setiap orang pun pasti memiliki film favorit garapan Spielberg. Dalam artikel ini, gw akan melist sepuluh film terbaik dari Spielberg di mata gw. Siap?

10. The Color Purple (1985)
Box Office    : US$ 93,589,701
Description    : Film ini meraih sebelas nominasi Oscar. Walaupun ia gagal memenangkan satupun di antaranya, ini adalah salah satu bukti kualitas dari film ini. Selain Whoopi Goldberg, Danny Glover dan Oprah Winfrey juga membintangi film yang mengisahkan kehidupan seorang African-American bernama Celie Johnson. Bagi beberapa penggemarnya, ending dalam film ini adalah ending terbaik yang pernah digarap oleh Steven Spielberg dari semua film yang pernah ia buat. Entah kenapa bagi saya, pengalaman lebih menyeluruh masih saya dapatkan ketika membaca novel berjudul sama yang menjadi referensi Spielberg ketika menggarap film ini.

09. Catch Me If You Can (2004)
Box Office    : US$ 164,606,800
Description    : Film ini mempertemukan Leonardo Di Caprio dan Tom Hanks dalam satu layar. Catch Me If You Can adalah sebuah biopic seorang penipu muda bernama Frank Abagnale Jr. Kehidupan penuh warna dari Frank yang dalam usia muda berhasil menipu ratusan orang dan merenggut mendapatkan jutaan Dollar berhasil ditranslasikan secara sempurna oleh Spielberg ke layar lebar. Hasilnya? Catch Me If You Can tidak hanya berhasil menyajikan kisah kehidupan flamboyan Abagnale Jr, tetapi juga berhasil menggali sisi humanis dalam diri sang penipu muda.

08. Artificial Intelligence (2001)
Box Office    : US$ 78,616,689
Description    : Film ini digarap oleh Spielberg untuk menghormati Stanley Kubrick – sahabatnya yang meninggal sebelum sempat menggarap AI. Kisah ini banyak dianggap orang sebagai Pinokio modern. Seorang android yang begitu mendambakan kasih seorang ibu sehingga ia rela melakukan segalanya demi menjadi seorang manusia. Dari premisenya, film ini sangat mungkin menjadi film keluarga standar dan biasa – tetapi di tangan Spielberg (dan muka menggemaskan Haley Joel Osment), AI berubah menjadi sebuah drama humanis yang membuat diri kita menjadi bertanya-tanya, apa benar android tak punya perasaan?

07. Indiana Jones – Raiders of the Lost Ark (1981)
Box Office    : US$ 245,034,358
Description    : Satu-satunya alasan kenapa film ini tidak berada di peringkat yang lebih tinggi adalah karena serial Indiana Jones bukanlah murni hasil karya Steven Spielberg; tetapi adalah hasil kolaborasinya dengan George Lucas. Ketika Steven Spielberg dan George Lucas menyatakan kolaborasinya di masa itu; dunia tahu mereka akan mendapatkan sebuah mahakarya yang besar. Maklum, Spielberg di masa itu terkenal dengan Jaws dan George Lucas menghasilkan Star Wars. Harapan dunia terbukti; Raiders of the Lost Ark adalah pembuka seri Indiana Jones yang nantinya akan menjadi salah satu trilogi tersukses sepanjang masa.

06. Saving Private Ryan (1998 )
Box Office    : US$ 216,335,085
Description    : Film pertama yang menampilkan kerjasama antara Spielberg dan Tom Hanks menjadi film yang membuahkan Spielberg Oscar keduanya. Film dengan setting yang begitu realistis mengenai Perang Dunia II ini dinyatakan banyak pihak sebagai salah satu film perang terbaik sepanjang masa. Gaya realistis dalam film ini pada akhirnya ‘ditiru’ oleh banyak film-film lain macam The Thin Red Line, Black Hawk Down, sampai Behind the Enemy Lines. Toh, tidak ada yang mampu membuahkan kesuksesan (baik secara kualitas maupun secara finansial) seperti Saving Private Ryan.

05. Schlinder’s List (1993)
Box Office    : US$ 96,067,179
Description    : Lagi-lagi sebuah film dengan tema Perang Dunia II – inilah film yang pertama kali membuat Steven Spielberg meraih Oscar. Tidak hanya memenangkan penghargaan sutradara terbaik, Schlinder’s List juga dinobatkan menjadi film terbaik pada tahun tersebut! Steven Spielberg sendiri mengakui bahwa Schlinder’s List adalah film terbaik yang pernah ia buat – dan “saya tidak akan pernah bisa membuat sebuah film seperti ini lagi”. Kisah mengenai Holocaust ini digarap dalam format hitam putih dan membuat banyak orang yang hidup di jaman perang dunia menangis mengingat kekejaman di masa itu.

04. Minority Report (2003)
Box Office    : US$ 132,014,112
Description    : Lupakan pesawat antariksa yang aneh. Lupakan perjalanan menuju ke planet lain. Gambaran masa depan dalam Minority Reportnya Steven Spielberg bukan gambaran muluk-muluk tetapi sebuah gambaran realistis dunia masa depan. Apakah dunia masa depan yang sempurna adalah dunia di mana pembunuhan tak pernah terjadi? Dengan pertanyaan berani yang diangkat dalam film ini, Minority Report menjadi salah satu film science-fiction terbaik sepanjang masa. Saking ‘dalam’nya film ini, seorang dosen saya sampai mengangkat film ini menjadi topik diskusi dalam satu proyek universitas kita!

03. Jaws (1975)
Box Office    : US$ 260,000,000
Description    : Ketika kita bicara soal film Box Office, kita tak bisa lepas dari Jaws – karena film inilah yang membuat nama Box Office muncul. Box Office berarti sebuah film yang mampu menembus 100 Juta USD, dan Jawslah film pertama yang berhasil melakukan ini. Begitu menyeramkan dan menegangkannya film ini pada masanya hingga membuat banyak orang anti pada ikan hiu, dan ikan hiu hingga kini pun masih dianggap binatang antagonis terbesar umat manusia.

02. E.T – Extra Terrestrial (1982)
Box Office    : US$ 435,110,554
Description    : “ET Phone Home” adalah film yang menjadi landmark bagi Spielberg di era 80an. Nama ini melambungkan karir Drew Barrymore, dan film ini menjadi salah satu film keluarga terbaik sepanjang masa. Film ini juga meninggalkan jejak yang sangat mendalam bagi Spielberg sehingga lambang anak yang menaiki sepeda menuju ke angkasa sempat menjadi simbol bagi studio Dreamworks yang ia dirikan. ET juga adalah satu dari hanya tujuh film sepanjang sejarah yang berhasil menembus angka keramat 400 Juta USD.

01. Jurassic Park (1993)
Box Office    : US$ 357,067947
Description    : Setiap orang memiliki film Spielberg favorit mereka. Paman saya mengagungkan ET yang merupakan film favoritnya pada saat anak-anak dulu. Teman saya dari Israel mengatakan bahwa Schlinder’s List adalah film terbaiknya Spielberg. Bagi saya pribadi, film terbaik Spielberg adalah Jurassic Park. Saya masih ingat bagaimana raungan T-Rex ketika pertama kali muncul membuat suara saya yang pada saat itu delapan tahun tercekat di tenggorokan; Saya ingat bagaimana saya memegang erat-erat tangan mama saya ketika melihat para raptor mendengus mencari mangsa mereka di dalam dapur yang tertutup; Untuk sederhananya, Jurassic Park adalah film yang membuat impianku – dan impian banyak anak lain – terwujud. Melihat dinosaurus di kehidupan nyata. And for that, I thank you Mr. Spielberg.

Steven Spielberg tak bisa disangkal adalah salah seorang sutradara terbaik di masa ini. Kendati ada beberapa filmnya yang gagal di pasaran (The Terminal, AI, dan banyak lagi) dan tidak laku, tetapi hampir secara keseluruhan film-film garapan Spielberg selalu mendapat pujian dari para kritikus dan mendapatkan posisi tersendiri di hati para penikmat film. Untuk ke depannya, Spielberg berencana menggarap sebuah biopic tentang presiden Amerika: Abraham Lincoln dan berkolaborasi dengan Peter Jackson (Lord of the Rings, King Kong) untuk menggarap film animasi wartawan jambul kecintaan kita semua: Tintin. Mari kita nantikan karya-karya selanjutnya Spielberg!

Written by Si Tukang Review

January 20, 2009 at 12:23 pm

[DS] Legend of Kage 2

without comments

Legend of Kage 2 Cover

Legend of Kage 2 Cover

Publisher: Square Enix
Developer: Taito
Genre: Action

Ternyata bukan hanya film layar lebar saja lo yang harus menunggu waktu lama untuk mendapatkan sekuelnya, game juga! Ingatkah para gamer dengan sebuah game NES klasik berjudul The Legend of Kage (LoK)? Jauh sebelum lahirnya Naruto dan Shinobi sekalipun, gamer di NES sudah asyik memainkan game ini. Berbeda dengan Ninja Gaiden yang lahir di masa yang sama dan mengambil setting dunia modern, LoK mengambil setting klasik di jaman feudal Jepang. Sayang setelah itu Taito tidak pernah lagi menggarap lanjutannya hingga tahun ini.

The Legend of Kage 2 (LoK 2) mengambil premise yang hampir serupa dengan sang pendahulu. Sang putri Kirihime lagi-lagi diculik oleh pasukan iblis di bawah pimpinan seorang yang misterius. Kali ini ada dua tokoh utama yang bisa kamu pilih; Kage – sang jagoan utama yang juga merupakan teman masa kecil putri Kirihime, atau Chihiro – yang agaknya memiliki hubungan yang tak jelas dengan sang putri. Dua tokoh ini bukan hanya berbeda dalam segi design saja tetapi juga berbeda jauh dalam pola permainan.

Apabila memakai Kage, gamer memiliki jarak serangan yang lebih jauh karena Kage bersenjatakan Katana dan Shuriken. Chihiro senjatanya adalah Kusarigama, sebuah senjata Jepang klasik berbentuk tongkat dengan sabit di satu ujung dan rantai di ujung yang lain, kelebihan Chihiro adalah senjatanya yang menimbulkan damage lebih besar. Selain perbedaan dari segi senjata, Kage juga memiliki daya tahan dan nyawa yang lebih banyak dibandingkan Chihiro (saya berpikir mungkin saja karena dia tokoh utama, makanya dia mendapat perlakuan lebih spesial?)

Gameplay dalam LoK 2 persis dengan sang prekuel jadi apabila kamu pernah main game pertamanya, kontrolnya akan terasa sangat familiar. Kage maupun Chihiro bisa melompat sangat tinggi (bayangkan film Crouching Tiger Hidden Dragon!), mencapai akhir stage dengan menghabisi siapa saja yang merintangi jalan mereka, dan melawan sang boss di penghujung stage. Satu-satunya tambahan dalam LoK 2 adalah sistem Element Orb(bola elemental)-nya. Di setiap stage, berserakan orb yang bisa anda temukan: orb ini berfungsi memberimu kemampuan ninjutsu (jurus ninja). Setiap kali sebelum sebuah misi / stage dimulai, gamer akan diberi kesempatan mengkustomisasi orb yang akan mereka pakai. Ada empat jenis orb dalam game ini (orange, biru, kuning, dan perak) dan kamu diperkenankan membawa sampai delapan orb. Kombinasi orb-orb tertentu akan menghasilkan kekuatan-kekuatan magis yang berbeda-beda.

Sebagai sekuel dari game yang berusia lebih dari 20 tahun, sudah tentu grafis dari LoK 2 mengalami peningkatan signifikan dari sang kakak, walau begitu tampilan grafisnya tergolong standar untuk generasi handheld sekarang ini. Grafis in-gamenya sekilas mengingatkan saya pada game-game Castlevania sementara cutscenenya memiliki design khas anime Jepang. Musik yang digunakan dalam game ini merupakan kombinasi dari musik baru dan music lama dari LoK sehingga di nada-nada tertentu akan membangkitkan kenangan tersendiri bagi gamer yang memainkan LoK dulu.

FUN FACT: The Legend of Kage pertama dirilis di Amerika pada tahun 1987 sementara sekuelnya baru hadir di tahun 2008 ini. Itu berarti terjadi selisih sepanjang 21 tahun (kalau menghitung waktu dari rilisnya dari arcade bahkan sudah mencapai 23 tahun)! Sebuah waktu yang lebih panjang ketimbang franchise movie ternama macam Indiana Jones (19 tahun) atau Terminator (12 tahun) mendapatkan sekuel mereka.

Final Verdict:

Gameplay: 7.5
Gameplay yang lama menjadikan kontrol LoK 2 terasa kaku kadang-kadang. Kendati demikian, hal ini bisa ditutupi Taito dengan pertempuran melawan para boss yang sangat menantang dan memorable.

Graphic / Sound: 7.5
Design animasi karakter halus tanpa cela. Baik dalam cut-scene maupun in-game, grafis dalam game ini digarap dengan apik. Nilai bisa lebih tinggi apabila backgroundnya tidak terlalu monoton. Musiknya sangat memorable dan berhasil menghidupkan Jepang pada masa penguasaan Tokugawa.

Play Time: 7.5
Menamatkan game ini untuk pertama kalinya membuka opsi kesulitan Hard. Menyelesaikan dalam mode Hard membuka mode Extreme. Belum lagi ada opsi Boss Rush Mode dan tantangan membuka semua artwork yang ada. Play through game ini memang singkat (sekitar 3 – 4 jam) tapi ia memberi banyak alasan buatmu menjajalnya kembali.

Overall: 7.5

Written by Si Tukang Review

January 19, 2009 at 10:31 pm

Posted in DS, Handheld

Tagged with , , ,

[Comic] Superman: New Krypton

without comments

New Krypton Cover

New Krypton Cover

Writer: Geoff Johns, James Robinson, Sterling Gates
Penciller: Renato Guedes, Jamal Igle, Gary Frank, Pete Woods
Publisher: DC Comics

Ketika cerita Brainiac di Action Comics selesai, Geoff Johns menjanjikan sebuah crossover besar-besaran antara tiga komik Superman yang ada di pasaran saat ini. Action Comics, Superman, dan Supergirl akan memiliki jalan kisah sambung menyambung selama 10 bagian. Crossover besar-besaran ini dijuduli New Krypton dan disebutkan akan mengubah dunia Superman sebagaimana yang kita kenal ini selama-lamanya. Masalahnya, setiap penulis tentu saja berkoar demikian dalam mempromosikan karyanya. Bisakah hasil di kertas membuktikan janji tersebut?

Ketika pesawat Brainiac berhasil dihancurkan Superman, sang super komputer masih sempat memberikan ‘kado’ terakhir bagi sang manusia baja. Sebuah misil yang diledakkan dekat ladang Kent merenggut nyawa Jonathan Kent – ayah Clark. Sebaliknya, hancurnya pesawat Brainiac berhasil menyelamatkan sebuah kota Kryptonite yang dikecilkan oleh Brainiac. Walhasil, Superman dan Supergirl tidak lagi menjadi survivor dari planet Krypton. Ada setidaknya 100.000 orang Krypton yang kini menjadikan bumi sebagai rumah barunya.

Hadirnya para Kryptonian ini disambut harap-harap cemas oleh para penduduk Metropolis dan dunia. Maklum saja, baru beberapa saat yang lalu, Jendral Zod dari Krypton juga sempat meloloskan diri dari Phantom Zone dan bersama para kroninya nyaris menghancurkan Metropolis. Apakah para penduduk Krypton yang datang sekarang ini “malaikat penyelamat” ala Superman? Atau jangan-jangan malah “dewa penghancur” macam Zod? Dan bagaimana dunia dan para superheronya bisa bertahan apabila benar-benar digempur oleh 100.000 Superman?

Ruang cakup dari New Krypton yang begitu luas sebenarnya menjanjikan begitu banyak potensi untuk digali di dalamnya. Bagaimana Supergirl beradaptasi begitu menyadari bahwa ayah ibunya masih hidup? Bagaimana reaksi para penjahat – terutama Lex Luthor melihat mendadak musuhnya menjadi ribuan kali lipat? Bagaimana perang batin berkecamuk di hati Superman yang sebagai Clark Kent kehilangan ayahnya sementara sebagai Kal-El menemukan keluarga baru? Saya percaya bahwa Geoff Johns bisa menggali semuanya itu. Bukankah itu yang dia lakukan dengan saga Sinestro Corps War dalam Green Lantern? Bukankah ia salah seorang penulis terbaik DC saat ini?

Betapa salah dan kelirunya saya.

New Krypton bukannya menjadi cerita yang membangkitkan Superman setelah bertahun-tahun kalah pamor dengan Batman, tetapi malahan mengembalikan Superman ke jaman-jaman ‘kegelapan’nya. Tiga penulis Geoff Johns, James Robinson, dan Sterling Gates seakan kekurangan koordinasi dalam menggarap kisah crossover ini sehingga pacing dari cerita menjadi berantakan. Sampai paruh kedua New Krypton (buku keenam dari sepuluh) masih berkisah bagaimana Superman mencoba membawa para Kryptonian beradaptasi dengan bumi. Tensi baru mulai meninggi di buku ketujuh, memuncak di buku kedelapan serta sembilan, dan berakhir secara prematur di buku terakhirnya. Kelihatannya para penulis ikut bingung karena dengan begitu banyaknya materi penceritaan, mereka menjadi kehilangan fokus.

Yang lebih celaka lagi, Gary Frank yang sudah memiliki ciri artwork begitu signifikan dalam Action Comics malah berhenti dan tidak menangani New Krypton. Hal tersebut mungkin tidak menjadi masalah apabila penggantinya pun seorang yang sama baiknya. Masalahnya Pete Woods sebagai penerus – no offense – sama sekali tidak bisa menggambar. Penggambaran Renato Guedes yang tetap prima dalam komik Superman malahan membuat serial crossover ini kian timpang. Bukannya semua yang berlangsung di New Krypton buruk. Mengingat ia memang memiliki premise yang kuat, setidaknya crossover ini masih berhasil memulihkan citra Supergirl di mataku (dan di mata kebanyakan penggemar komik Superman lainnya).

New Krypton menjadi crossover yang sangat mengecewakan ketika ditutup di awal tahun 2009. Semoga ini menjadi peringatan bagi Johns untuk tidak mengulangi hal yang sama ketika ia nantinya menggarap The Blackest Night.

Score: 6.0

Written by Si Tukang Review

January 19, 2009 at 1:57 pm

[Movie] Iron Man

without comments

Iron Man Poster

Iron Man Poster

Director: Jon Favreau
Artist: Robert Downey Jr, Terrence Howard, Jeff Bridges, Gwyneth Paltrow
Genre: Action

- heroes aren’t born, they’re built -

Ketika saya pertama kali melihat Iron Man suit di internet; pikiran yang hadir di benak saya hanya satu. Saya harus menonton film ini. Iron Man adalah salah satu karakter superhero Marvel yang paling disorot selama tiga tahun terakhir. Perseteruannya dengan Captain America di Civil War (dalam dunia komik) yang berakhir dengan kematian Captain America dan diangkatnya Iron Man menjadi pemimpin semua superhero resmi dunia Marvel sempat membuatnya dibenci banyak pembaca komik. Akibatnya keputusan Marvel mengangkat Iron Man ke layar lebar sempat dikira sebagai keputusan yang blunder dan salah waktu. Toh, Marvel maju terus, dan ketika Iron Man suit berlanjut dengan trailer film ini hadir di internet, hype yang ditimbulkan film ini hanya bisa disaingi oleh film keempat Indiana Jones dan The Dark Knight saja.

Iron Man adalah Tony Starks, CEO sekaligus inventor dari Starks Industries yang memproduksi senjata-senjata perang. Mayoritas senjata Tony dipakai oleh para tentara Amerika untuk melawan para teroris. Karena itu, ketika Tony diajak ke sebuah daerah di Timur Tengah (konon Afghanistan – tetapi tidak ada detail mengenai hal ini) untuk mendemonstrasikan senjata terbarunya: Jericho Missile, ia sama sekali tidak menyangka bahwa ia berikutnya akan disandera. Lebih gawatnya lagi, pecahan dari roket peluru yang ia ciptakan tanpa sengaja masuk ke dalam jantungnya. Akibatnya, Tony harus memasang peralatan khusus di dalam jantungnya guna mencegah pecahan peluru itu membunuhnya. Dalam tawanan, Tony dipaksa oleh para teroris untuk menciptakan Jericho Missile bagi para teroris itu. Tony jelas tidak terima dan secara diam-diam menciptakan sebuah armor bagi dirinya. Inilah awal kelahiran Iron Man.

Robert Downey Jr. sempurna sebagai Tony Starks. Hanya itu yang bisa saya katakan mengenainya. Tony Starks bukanlah Peter Parker – seorang pemuda lugu yang menemukan kemampuan sebagai seorang laba-laba. Dia bukan Clark Kent yang ribet dengan segala permasalahan kehidupannya, bukan juga Bruce Wayne yang seumur-umur kerjaannya meratapi nasib kematian orang tuanya. Tony Starks adalah seorang playboy sejati, flamboyan dengan wanita, sekaligus nyentrik dan jenius. Satu hal yang jelas – ia bukan orang yang rendah diri dan rendah hati. Itu membuat Iron Man menjadi sangat menyegarkan untuk ditonton. Karakter Tony Starks memungkinkan nada film Iron Man tidak terlampau serius atau gelap; sebaliknya, sang sutradara Jon Favreau pun cukup cerdik membalut film ini serealistis mungkin sehingga tidak menjadi seabsurd Fantastic Four.

Iron Man bisa dibilang dibawa oleh Robert Downey Jr., tetapi ia mendapatkan dukungan dari aktris-aktris lainnya. Mulai dari Gwyneth Paltrow yang memiliki chemistry sempurna dengan Downey Jr., Terrence Howard (sayangnya dia nanti digantikan Don Cheadle) yang pastinya sangat dinantikan kehadirannya sebagai War Machine di sekuel Iron Man, sampai Jeff Bridges yang berperan menjadi musuh utama dalam film ini. Gabungan akting yang fluid dari keempatnya membuat film ini tetap menarik untuk ditonton, bahkan ketika adegan aksi tidak mendominasi film – saya berani bilang kalau saya justru paling menikmati Iron Man ketika melihat Tony Starks dengan Pepper Pots sang sekretarisnya! Omong-omong soal cameo di film ini, sudah rahasia umum kalau Stan Lee selalu nongol di film-film yang berdasarkan komik buatannya, tapi apa anda cukup cermat untuk melihat Samuel L. Jackson yang hadir sebagai Nick Fury dalam film ini. (Hint hint: jangan terburu-buru meninggalkan theater begitu ending credits bergulir).

Secara keseluruhan, Iron Man memang film terbaik untuk membuka summer tahun ini. Ia mampu menjawab semua pertanyaan skeptis yang diarahkan kepadanya. Dan tidak hanya itu, buka mata anda lebar-lebar untuk film The Incredible Hulk. Kemungkinan besar cikal bakal dari film The Avengers akan berawal dari sana!

Score: 9.0

Written by Si Tukang Review

January 18, 2009 at 10:51 pm

[Movie] Transporter 3

with 3 comments

Transporter 3 Poster

Transporter 3 Poster

Director: Olivier Megaton
Artist: Jason Statham, Robert Knepper, Francois Berleand, Natalya Rudakova
Running Time: 100 Minutes

Kendati sebelumnya pernah bermain dalam film aksi macam The Italian Job maupun The One, breakthrough role bagi Jason Statham datang ketika ia berperan sebagai Frank Martin dalam film Transporter. Pembawaan sosok Frank Martin yang cool, tenang, gentleman, serta jago bela diri membuat pria maupun wanita menggandrungi sosoknya. Walhasil, film pertama dan sekuelnya mampu meraih sukses. Jason Statham pun makin identik dengan peran-peran tough guy. Tahun 2008, ia kembali sebagai Frank Martin dalam instalasi ketiga Transporter.

Ketika saya usai menonton Transporter 2, sedikit rasa kecewa melintas di hati. Saya merasa bahwa Frank bukan menjalankan misi di sini – tetapi pergi ‘berlibur’ dan kena sial saat lagi liburan. Saya ingat berharap di Transporter 3 nanti akan lebih mengusung nuansa Transporter pertama. Ternyata, Besson sebagai penulis naskah berpikiran lain. Kali ini Frank bukan mendapat kerja – tetapi ‘dipaksa‘ bekerja oleh sosok kriminal arogan kejam bernama Johnson. Frank dipasangi alat peledak yang akan aktif apabila ia berada terlalu jauh dari mobilnya. Yang lebih celaka lagi, kali ini ia tak menjalankan tugasnya sendiri, tetapi bersama seorang gadis Eropa Timur misterius bernama Valentina. Apa sebenarnya yang diantar oleh Frank kali ini?

Usai menonton Transporter 3 saya geleng-geleng kepala. Saya pikir Transporter 2 sudah mengalami penurunan kualitas dibanding Transporter. Tak saya sangka, Transporter 3 malahan lebih buruk lagi! Plot ceritanya amburadul dan memiliki lubang logika yang menganga. Berkali-kali sebuah adegan terjadi BUKAN karena adegan itu seharusnya terjadi tetapi karena dianggap keren di layar. Walhasil, cerita seakan-akan cuma dijadikan alasan memajang aksi di film ini. Kendati demikian, ketimbang Transporter 2 yang kebanyakan adegan aksinya tidak masuk akal, Transporter 3 masih menyuguhkan adegan-adegan aksi yang tidak keterlaluan menyalahi aturan gravitasi.

Turut memperparah cerita yang buruk adalah akting para pemain yang picisan. Peran Statham dalam tiap film yang ia perani hampir sama sehingga praktis ia tidak kesulitan memerankan sosok Frank Martin; stereotipe; jagoan – tidak banyak bicara. Francois Berleand yang hadir sebagai Tarconi juga menarik sebagai sidekick setia Frank. Hanya keduanya saja yang selalu hadir dalam trilogi Transporter ini. Sayangnya, penampilan pas-pasan keduanya tidak diikuti para pendatang baru di film ini. Natalya Rudakova yang hadir sebagai Valentina misalnya menghabiskan hampir seluruh paruh pertama menjadi tipe cewe pendiam angst, kemudian berubah menjadi cewe super menyebalkan, lantas menjadi cewe cengeng. Saya belum pernah merasa begitu sebalnya pada seorang karakter sampai berulang-ulang mengharapkannya mati. Setali tiga uang dengan karakter Johnson, ia hadir dengan klise semua penjahat ’sadis’. Tak segan-segan membunuh atasan yang tidak mendengarkan, sampai melontarkan kata-kata klasik “saya sebenarnya cinta damai”. Saya tak bisa menolong tidak mengerang begitu mendengar dialog itu.

Transporter 3 adalah sebuah bencana untuk franchise ini. Koreografi pertarungan Corey Yuen makin membosankan (pertarungan lawan banyak orang ditambah melawan orang super besar di akhirnya), rentetan adegan aksi mobil dan ledakan bisa kita dapati di setiap film yang diperani Statham, konsep harus dekat dengan mobil pun bisa dibilang mirip dengan konsep Crank yang menempatkan posisi sang jagoan pada kondisi berbahaya. Transporter 3 tidak menawarkan hal baru apapun. Saya hanya bisa berharap bahwa kali ini Frank Martin benar-benar memutuskan untuk pensiun dari pekerjaannya.

Score: 4.0

Written by Si Tukang Review

January 18, 2009 at 12:59 am

[DS] Prince of Persia – The Fallen King

without comments

Prince of Persia - The Fallen King Cover

Prince of Persia - The Fallen King Cover

Publisher: Ubisoft
Developer: Ubisoft Casablanca
Genre: Action Adventure

Salah satu ciri khas dari DS adalah mendapatkan versi yang sangat berbeda dari game-game yang dirilis simultan di konsol maupun PSP. Salah satu contohnya adalah Web of Shadows yang dirilis pertengahan tahun lalu. Ketika versi konsol dan PSPnya lebih menekankan pada petualangan 3D Spidey, versi DSnya justru membawa nuansa 2D klasik. Beberapa bulan kemudian, ketika Prince of Persia mendapat rilis simultan di konsol dan DS, sekali lagi versi DS berbeda jauh dengan versi konsolnya. Penyebabnya jelas, sistem handheld DS jelas tidak kuat untuk dibandingkan konsol-konsol macam 360 atau PS3. Tapi seperti yang kita tahu, grafis yang lebih apik bukan berarti game yang lebih superior. Apakah versi DS ini bisa bersaing dengan saudara-saudara tirinya?

Saya sudah mereview Prince of Persia versi konsol yang memiliki genre free-roaming adventure. Karaktermu bersama Elika akan menjelajahi tanah demi tanah untuk membebaskannya dari kutukan Ahriman, versi DS (The Fallen King / TFK) sedikit berbeda karena memberikan kepada kita struktur level seperti game adventure tradisional (sistem map seperti Super Mario World atau Donkey Kong). Yang unik adalah, gameplay dari versi DS ini mirip sekali dengan pengembangan versi Prince of Persia orisinil (yang tahun 89 itu lo). Sebagai Prince, kamu bisa melompat, bergelayutan di tepi platform, membuka puzzle-puzzle dan sesekali berhadapan dengan para musuh.

Sekedar mengulangi game klasik tentu saja tidak cukup, dalam game ini Prince mendapatkan upgrade kemampuan-kemampuan baru. Kali ini kemampuannya bermain pedang menjadi lebih lincah, ia bisa melakukan gerakan rolling, hingga melakukan wall-jump berturut-turut ala seorang ninja. Nah, kemampuan seperti inipun masih tidak cukup membawa Prince menyelesaikan misinya. Sebagaimana halnya Elika menemani Prince di versi konsol, Prince di versi DS ini didampingi oleh seorang mage bernama Zal. Val bukannya sosok omnipoten yang bisa selalu menyelamatkan nyawa anda ala Elika, tetapi keberadaannya tetap cukup vital dalam permainan. Gameplay dalam TFK lebih menitik-beratkan pada platforming. Kamu akan sibuk membawa karakter Prince melompat sana-sini ketimbang mengadu pedang dengan para musuh.

Tetapi kontroversi terbesar dalam game ini bukan penambahan kemampuan si Prince, atau petualangannya yang kembali dalam bentuk 2D, atau partner yang bukannya cewe seksi tapi mage misterius bertopeng, melainkan kontrol yang sepenuhnya hanya bisa dioperasikan dengan stylus. Kontrol ini mungkin akan menganggu beberapa orang yang lebih terbiasa bermain normal menggunakan D-Pad. Seharusnya, Ubisoft tidak memaksakan gamer dengan kontrol yang mereka berikan pada kita, tetapi memberi kita opsi. Untungnya saja, walau dalam beberapa level awal masa adaptasi pasti akan terasa kaku, begitu kamu terbiasa dengan kendali si Prince, kontrolnya terasa cukup fluid.

Untuk grafis dan suaranya, tidak banyak yang bisa dibanggakan oleh TFK. Jangankan dibandingkan dengan versi konsolnya, bahkan dibandingkan dengan game-game sejenis di DS pun TFK terasa kalah kualitas. Musiknya terasa repetitif dan miskin variasi, grafisnya pun tidak banyak berbeda dari level ke level (bahkan mayoritas musuh yang akan kamu hadapi hanya satu jenis petarung!). Sungguh sayang, padahal saya sempat berharap banyak melihat design karakter sang Prince dan Zal yang bergaya chibi. Walaupun begitu, apabila kamu mau tutup mata dengan segala kelemahan yang terdapat pada game ini. TFK membuktikan diri sebagai sebuah game 2D Platform yang solid dengan waktu permainan yang lumayan panjang. Apabila menyukai game semacam ini, TFK layak dicoba.

Final Verdict:

Gameplay: 6.5
Walaupun sebenarnya kontrolnya tidak terlalu merepotkan kalau kamu sudah beradaptasi dengannya, saya masih menyayangkan kurangnya opsi kontrol klasik dan touch-screen. Desain level yang kadang terasa repetitif (stage yang terasa sama, hanya jebakan yang diletakkan di tempat yang berbeda) juga membuat game ini terasa membosankan – bahkan sebelum kamu menamatkannya.

Graphic / Sound: 5.0
Sangat – sangat buruk. Tidak ada voice-acting sedikitpun dalam game ini. Tidak ada FMV dan potongan cerita yang detail. Cerita yang dibawa pun sepertinya tidak mengikuti versi konsolnya. Tidak ada alasan bagi Ubisoft tidak memasukkan voice-acting dalam game ini selain malas. Dan penggunaan warna yang sama dan serupa bukannya membentuk dan memberi nuansa yang berbeda di dunia game ini – tetapi malahan mematikannya.

Play Time: 7.5
Panjang. Kamu bisa memainkan game ini selama lebih dari 10 jam sebelum bisa menyelesaikannya. Walau begitu, apakah memang kamu mau memainkannya sampai selama itu?

Overall: 6.3

Written by Si Tukang Review

January 17, 2009 at 9:27 pm

Posted in DS, Handheld

Tagged with , , , ,