Rumah Si Tukang Review

a review a day takes your curiosity away

[Comic] Secret Invasion

leave a comment »

Secret Invasion Cover

Secret Invasion Cover

Writer: Brian Michael Bendis
Penciller: Leinil Yu
Publisher: DC Comics

Ketika Civil War berakhir tahun 2006 lalu, saya (dan saya rasa banyak pembaca komik lainnya) berpikir “This is it. Inilah event komik terbesar dekade. Mustahil membayangkan ada event komik lain yang bisa lebih besar, dahsyat, atau orisinil lagi ketimbang ini”. Dan hanya dalam hitungan bulan pendapat saya terhapus oleh Marvel. Diawali dengan berubahnya Elektra menjadi sosok alien Skrull dalam akhir New Avengers #31. Seketika itu bulletin board yang mendiskusikan komik US langsung gempar. Semua sibuk mempertanyakan siapa saja yang sudah menjadi Skrull? Siapa yang masih bisa dipercaya – dan siapa yang tidak?

Tema dalam Civil War adalah para superhero yang bertikai antara mereka sendiri. World War Hulk mengangkat aksi murni Hulk yang mengamuk menghadapi seluruh hero Marvel. Sekarang Secret Invasion berusaha memvisualisasikan ide sederhana Bendis ‘Skrull adalah alien yang sebenarnya memiliki kemampuan yang sangat amat berbahaya. Mereka bisa menyusup di antara manusia, mutant, bahkan superhero tanpa terdeteksi. Selama ini Skrull selalu menyerang secara frontal dan selalu gagal. Bagaimana kalau sekarang mereka menyusup di tengah para superhero dan menyebabkan perpecahan di antara mereka? Bagaimana kalau invasi mereka berjalan diam-diam dan rahasia?’.

Apa yang membedakan Secret Invasion dengan kedua event besar sebelumnya adalah Brian Michael Bendis yang mengepalai proyek ini mengatakan bahwa benih-benih invasi sudah disiapkan dari jauh hari sebelumnya. Dia bahkan berani berkoar bahwa benih dari invasi sudah disiapkan sejak New Avengers edisi pertama. Rumor yang terus bersirkulasi akhirnya terkuak lebar begitu Secret Invasion dimulai pada awal tahun ini. Bagaimanakah kualitas dari crossover event Marvel yang baru saja berakhir minggu lalu?

Saya menutup Secret Invasion #8 dengan perasaan yang kurang puas. Segala janji besar Bendis bahwa Secret Invasion akan menjadi awal dari masa-masa gelap di Marvel Universe (Secret Invasion diikuti dengan event Dark Reign) rasanya kurang greget dan tidak terpenuhi. Bahkan, tidak sekalipun saya rasa Secret Invasion (sepanjang serial ini berlangsung) berhasil memenuhi gregetnya. It’s like Bendis overpromised and under-deliver. Sebelum menuding bahwa saya bersikap subyektif, Bendis adalah salah seorang dari tiga penulis graphic novel favorit saya (the other two are: Mark Millar and Geoff Johns). Dialog-dialog tajam yang menjadi ciri khasnya saat menggawangi Avengers Disassembled, House of M, sampai Ultimate Spider-man entah kenapa juga absen di sini.

Masalah terbesar dari Secret Invasion adalah pola penceritaan dari Bendis. Latar belakang dari bagaimana Skrull melakukan invasi kebanyakan diceritakan di tie-in macam New Avengers dan Mighty Avengers. Di seri utamanya sendiri, Bendis hanya sibuk menjelaskan proses terjadinya invasi dan menyajikan big fight antara the heroes and the villains. Celakanya, sebagus apapun konversi pikiran Bendis yang digambar Leinil Yu (dia banyak berkembang. Perhatikan artworknya saat dia menggambar Superman Birthright dan bandingkan dengan karyanya sekarang), Bendis tidak pernah seorang maestro dalam adegan-adegan aksi.

Akhir kata, Secret Invasion alih-alih menjadi crossover terbesar Marvel yang bisa bersanding sejajar dengan Civil War malah menjadi invasi melempem. Better luck next time Bendis!

Score: 6.5

Written by Si Tukang Review

January 17, 2009 at 2:26 pm

[Movie] Slumdog Millionaire

leave a comment »

Slumdog Millionaire Poster

Slumdog Millionaire Poster

Director: Danny Boyle & Loveleen Tandan
Artist: Dev Patel, Freida Pinto
Running Time: 120 Minutes

Jenis kuis paling terkenal di dunia ini mungkin adalah Who Wants to Be A Millionaire. Kuis ini tidak hanya berhasil di negara asalnya (Amerika) tetapi juga diimpor ke berbagai negara (Ingat beberapa tahun lalu Indonesia juga sempat demam dengan kuis yang dibawa oleh Pak Tantowi Yahya ini?). Nah, Slumdog Millionaire ini mengambil tema kuis Who Wants to Be A Millionaire dan mengikatnya dengan jalan kehidupan seorang anak jalanan bernama Jamal Malik.

Jamal Malik tinggal selangkah lagi sebelum mewujudkan impiannya. Angka 10 Juta Rupee (1 Rupee = 230 Rupiah) sudah digenggamnya. Apa yang tersisa tinggallah pertanyaan terakhir yang mempertaruhkan segalanya. Akankah ia mendapatkan 20 Juta Rupee (4,6 Milliar Rupiah), atau pulang dengan tangan kosong sama sekali? Sebelum Jamal sempat menjawab, sialnya, waktu habis dan acara diputuskan untuk dilanjutkan keesokan harinya. Yang tak Jamal duga, mendadak saja ia diciduk oleh polisi karena dituduh sebagai seorang penipu. Maklum saja, bukankah Jamal Malik ini seorang anak jalanan? Dia bahkan tak pernah mengenyam bangku sekolah. Bagaimana mungkin dia bisa mengetahui begitu banyak hal? Dari interogasi polisi inilah, Jamal pun membeberkan satu demi satu kisah hidupnya, bagaimana ia bisa tahu jawaban-jawaban dari pertanyaan di acara kuis.

Konsep cerita yang unik digabung dengan kisah hidup anak jalanan di India menjadikan Slumdog Millionaire sebuah film yang menarik untuk ditonton. Menggetarkan hati adalah ungkapan yang tepat dalam menonton film ini. Miris melihat India (yang disebut sebagai salah satu pilar baru ekonomi Asia selain China) ternyata masih memiliki ketimpangan sosial yang begitu besar. Penggambaran kehidupan strata bawah di India yang begitu mendetail dan jujur inilah yang membuat Slumdog Millionaire terasa real dan bahkan membumi, terutama bagi kita yang sama-sama tinggal di negara berkembang seperti Indonesia.

Tadinya saya menyangka bahwa Slumdog Millionaire akan sangat bergaya Hollywood. Ternyata tidak. Unsur India di film ini sangat kental dan pemakaian bahasanya pun berselang-seling antara Inggris (berlogat India) dan India (Tamil?). Kehidupan Jamal dari masa kecil yang ia habiskan bersama sang kakak Salim, gadis yang menjadi cinta seumur hidupnya Latika, serta perjuangannya untuk bertahan hidup dari kemiskinan diperankan sangat baik oleh tiga aktor dari tiga generasi. Dua karakter pendukung; Latika dan Salim pun mendapatkan peranan dari tiga generasi aktor dan hampir semuanya sempurna membawakan peran mereka. Mungkin satu-satunya yang terasa agak kurang klop adalah pasangan Dev Patel dengan Freida Pinto – mengingat wajah imut Dev lebih cocok menjadi adik ketimbang love interest Freida.

Selain dari sisi cerita dan akting, satu hal lagi yang menarik perhatian saya adalah penggunaan lagu-lagu India dalam Slumdog Millionaire. Tadinya saya menyangka bahwa Danny Boyle mungkin bakalan terlalu tinggi hati untuk memakai lagu-lagu India, untungnya saja tidak (mungkin pengaruh Loveleen Tandan selaku co-director?), dan penggunaan lagu-lagu India memang benar menghidupkan suasana film ini.

Sudah dua film yang bersaing di ajang penghargaan yang mengisahkan kehidupan sosok manusia. The Curious Case of Benjamin Buttons-nya Brad Pitt dan Slumdog Millionaire. Mau tak mau saya harus membandingkan keduanya; hasilnya: kendati Benjamin Buttons memiliki nuansa fantasi yang begitu kuat, saya merasa bahwa Slumdog Millionaire dengan segala kerendah-hatian dan pesan moral yang ia junjung di dalamnya masih menjadikan dia film yang lebih unggul.

Score: 9.2

Written by Si Tukang Review

January 17, 2009 at 1:00 am

[TV] Lost – The Complete Fourth Season

leave a comment »

Lost Season 4 Cover

Lost Season 4 Cover

Producer: JJ Abrams
Artist: Matthew Fox, Evangeline Lily, Dominic Mognahan
Running Time: 45 Minutes per Episode

(Seperti biasa, review untuk season keempat ini ditulis dengan anggapan kamu sudah menonton tiga season Lost sebelumnya. Apabila kamu belum menontonnya, jangan baca review di bawah karena berisi spoiler untuk kisah tiga season sebelumnya)

How can you top a TV series that ends its season 3 with ‘WE HAVE TO GO BACK KATE. WE HAVE TO GO BACK’? The answer is simple. You simply can’t.

Saya masih ingat bahwa itulah nickname yang saya masukkan di MSN saya begitu selesai menonton season tiga dari Lost. Maklum, kalau kamu sudah cermat mengikuti Lost selama ini, maka season tiga finalenya yang berjudul Through The Looking Glass memberikan hampir segalanya yang bisa kamu harapkan dari Lost. Perseteruan antara para survivor dan para others mencapai puncaknya; kontak dengan dunia luar untuk pertama kali berhasil dilakukan; janji akan diselamatkan untuk pertamanya mencuat dengan jelas. Betapa salahnya saya, karena terbukti bahwa season empat berhasil menyamai kualitas season tiga – bahkan melebihinya.

Dan semuanya ditutup dengan pesan terakhir Charlie: “Not Penny’s Boat“.

Jadi siapa orang-orang yang dijanjikan akan menyelamatkan mereka itu? Apakah mereka kawan? Apakah mereka lawan? Haruskah percaya kepada mereka dan menyelamatkan diri dari pulau misterius itu? Ataukah para survivors itu masih harus tetap tinggal di sana karena itulah takdir mereka?

Hal inilah yang nantinya membagi para survivors menjadi dua kubu. Satu kubu akan dipimpin oleh Jack, yang mengharapkan mereka akan bisa diselamatkan dan meninggalkan pulau ini. Sebaliknya, kubu lain di bawah pimpinan dari John yang merasa bahwa kesempatan mereka untuk hidup adalah dengan bertahan di pulau itu. Walhasil, beberapa survivor memutuskan tinggal di pantai dan menunggu pertolongan, sementara yang lain masuk makin ke dalam hutan guna menghindari pertemuan dengan para penyelamat. Siapa yang benar? Apakah mereka benar-benar bisa meloloskan diri dari pulau itu?

Satu konsep baru yang diperkenalkan dalam season ini oleh Lost adalah konsep flash-forward. Apabila biasanya cerita dalam Lost sebelumnya dibagi dalam segmen flashback satu karakter tertentu dan cerita utama di pulau, elemen baru flash-forward ini menunjukkan apa yang terjadi pada masa depan karakter yang bersangkutan. Hal ini membuat jalan cerita menjadi semakin menarik karena para penulis skenario bisa menipu penonton dengan menunjukkan flash-forward yang seakan-akan merupakan flashback (atau sebaliknya). Konsep flash-forward pun merupakan bagian yang lebih integral dengan jalan cerita utama sehingga kita akan cermat mengamatinya supaya tidak kelewatan rahasia-rahasia kecil yang diselipkan oleh para penulis skenario.

Kelemahan utama Lost dulu adalah pacing yang terlalu lambat. Ini paling kentara apabila kamu menonton season ketiga Lost. Paruh pertamanya terasa lambat, bertele-tele dan membosankan. Toh begitu season tersebut memasuki paruh keduanya, pace cerita meningkat, misteri-misteri yang ada dibuka, dan konfrontasi serta penyingkapan misteri terjadi. Walhasil, season keempat Lost bukannya memiliki 22 jumlah episode, hanya memiliki 14 episode saja. Pemotongan jumlah episode yang terjadi untuk semua TV Series Amrik (karena adanya Writer’s Strike tahun 2007) ini bukannya menjadi bencana malahan menjadi berkah bagi Lost. Lost pun disanjung dan dianggap kembali mampu menaikkan pamornya.

Saya sudah menuliskan resensi mengenai empat season Lost dan memuji serial ini setinggi langit. Jujur saja, apabila kamu belum mengikuti serial ini, saya hanya bisa mengulang saran yang rasanya sudah saya tuliskan berulang kali. Lost adalah salah satu serial terbaik yang pernah ditayangkan di layar kaca. Jangan lewatkan.

Score: 9.3

Written by Si Tukang Review

January 16, 2009 at 9:22 pm

[TV] Lost – The Complete Third Season

leave a comment »

Lost Season 3 Cover

Lost Season 3 Cover

Producer: JJ Abrams
Artist: Matthew Fox, Evangeline Lily, Dominic Mognahan
Running Time: 45 Minutes per Episode

(Perhatian: Seperti review untuk season dua, bacalah review ini setelah anda menonton kedua season awal Lost karena akan banyak spoiler dalam review ini)

Season tiga adalah titik balik dari serial Lost. Banyak orang sempat merasa bahwa Lost sudah sampai pada titik jenuhnya. Plot yang maju dengan lambat selama dua season pertama (akibat harus berbagi waktu dengan flashback) membuat banyak orang menjadi malas mengikuti serial ini. Karakter di Lost memang menarik – tetapi berapa banyak masa lalu yang bisa anda masukkan ke dalam seorang karakter? Kate adalah seorang penipu, Jack adalah seorang dokter, Locke adalah seorang… petualang (mungkin?), dan Sawyer adalah seorang penipu. Okay, we get it. Stop beating that to our head repeatedly.

Season dua diakhiri dengan ditangkapnya Hugo, Jack, Kate, dan Sawyer karena pengkhianatan Michael. Sesuai janji dari The Others, Michael dan Walt diperbolehkan pulang. Sayid, Jin, dan Sun masih berada di perairan lepas menanti di mana gerangan mereka. Di camp para survivor sendiri, Locke baru menyadari bahwa ia membuat kesalahan besar dengan tidak menekan angka keramat. Hatch yang selama ini menjadi markas kedua para survivor pun meledak sudah. Dengan finale seperti itu, season tiga pun dimulai.

Apabila saya diminta merangkum Lost, saya akan merangkum season satu sebagai pembukaan Lost. Dalam season dua kita mulai diperkenalkan lebih dalam mengenai The Others. Siapa saja mereka yang telah menghuni pulau ini sebelum para survivor tiba? Dalam season tiga, fokusnya adalah konfrontasi antara para survivor dan The Others. The Others di bawah pimpinan Henri Gale (nantinya dikenal sebagai Benjamin Linus) dan para survivor di bawah pimpinan Jack dan John. Kita akan diajak untuk mengenal lebih dalam siapa saja anggota lain dari The Others.

Paruh pertama dari Lost mendapatkan kritik bertubi-tubi dari banyak orang. Jalan cerita dianggap sangat – sangat lambat sehingga membosankan dan membuat banyak orang malas mengikutinya (apabila di tahun yang sama muncul Heroes yang memiliki cerita dengan tempo lebih cepat dan menegangkan). Karakter-karakter baru yang dimasukkan dalam cerita seperti Paolo dan Niki dianggap tidak menarik dan tak bisa bersaing dengan karakter-karakter lama lain. Walhasil, rating dari Lost pun turun dan para produser harus memutar otak guna menggarap paruh akhir musim.

Hasilnya sukses besar. Paruh kedua musim ini menghasilkan episode-episode yang solid. Banyak misteri mulai diungkap, karakter-karakter yang tidak menarik digantikan, dan pace cerita dipercepat. Di saat yang sama Jeffrey Lieber, Damon Lindelof dan JJ Abrams selaku penggarap Lost memastikan bahwa Lost sudah memiliki jadwal cerita. Mereka akan mengakhiri Lost di season enam dengan menggarap 16 episode di tiga season terakhir. Ini memberikan kepastian bagi banyak fans bahwa Lost tidak akan memiliki jalan cerita yang berputar-putar ga jelas. Mendapat sambutan hangat para kritik, Lost kembali menjadi favorit penonton. Saya tantang anda; cari satu episode TV yang memiliki kualitas setaraf dengan Through the Looking Glass (finale dari season tiga Lost). Saya jamin anda takkan bisa menemukannya.

Terus terang saya sendiri pun terbagi mau menilai season tiga. Setengah dari saya ingin menilai ini sebagai season terbaik Lost karena paruh keduanya yang fantastis, tetapi sebagian dari saya yang lain ingin mencercanya karena paruh pertamanya yang sangat buruk. My final verdict is: sabarkan diri anda menonton paruh pertama, karena paruh kedua Lost adalah salah satu sajian paling berkualitas yang pernah hadir di layar kaca.

Score: 9.0

Written by Si Tukang Review

January 16, 2009 at 3:16 pm

[Movie] Kung Fu Panda

leave a comment »

Kung Fu Panda Poster

Kung Fu Panda Poster

Director: Mark Osborne & John Stevenson
Artist: Jack Black, Dustin Hoffman, Angelina Jolie, Jackie Chan
Genre: Animation

Yesterday is history, tomorrow is a mystery. But today is a gift; that’s why it’s called present
- Master Oogway

Po si Panda hanya memiliki satu keinginan terpendam. Ia ingin menjadi jagoan kung fu terhebat di seluruh Valley of Peace. Apa daya, bagai pungguk merindukan bulan, Po alih-alih menjadi seorang jagoan kung fu, perutnya yang gembrot membuat dia hanya bisa membantu usaha sang ayah: menjual bakmi. Walaupun begitu, Po tidak putus asa. Ia terus memimpikan kesempatan untuk menjadi seorang jagoan kung fu yang bisa berdiri sejajar dengan para murid jagoan kung fu Shifu.

Suatu hari, peguruan Shifu mendapatkan kabar buruk. Salah seorang kriminal kelas kakap bernama Tai Lung dikabarkan hendak melarikan diri dari penjara di mana ia ditahan. Shifu sadar bahwa hanya Dragon Warrior yang terpilih oleh takdir yang akan memiliki kemampuan untuk menghadapi Tai Lung. Diadakanlah pentas unjuk aksi yang diikuti lima murid terbaik Shifu. Po mati-matian hendak menonton, menganggap menonton pertunjukan itu tentunya bisa meningkatkan kemampuannya serta memberinya kesempatan menonton jagoannya dari dekat. Tak disangka oleh Po, malahan takdir menunjuk dirinya sebagai sang Dragon Warrior oleh maha guru Oogway (dibaca: Wu Gui yang berarti kura-kura). Dimulailah hari-hari berat Po menjalani latihan kung fu. Sanggupkah ia memenuhi mimpinya? Atau ia akan menyerah dan kembali berjualan bakmi saja?

Film animasi terbaru Dreamworks ini sekali lagi menunjukkan bahwa mereka siap menjadi kontender utama dari Pixar. Kung Fu Panda sukses menghadirkan karakter-karakter yang memorable untuk tua muda. Diam-diam penonton dibawa untuk menghayati dan memahami transformasi Po dari seorang pecundang menjadi seorang pahlawan. Kisah klasik from zero to hero ini memang sudah sering diangkat dalam film animasi, tetapi Kung Fu Panda membalutnya dengan gabungan filosofi barat dan timur dengan takaran yang pas.

Yang patut diacungi jempol dalam Kung Fu Panda tentu koreografi pertarungannya. Saya sekurangnya mencatat ada empat adegan aksi yang sangat seru dalam film ini; ralat dua yang sangat seru dan dua lagi yang super ngocol. Saya takkan memberitahukan mengenai adegan mana saja yang dimaksud (spoiler-free!) tapi saya jamin penonton akan tahu adegan mana saja begitu menonton film ini. Jangan salah, walaupun Kung Fu Panda banyak berisi adegan-adegan aksi, Dreamworks memberi banyak waktu untuk mengembangkan karakter di dalamnya; terutama pada interaksi tiga karakter Po, Shifu, dan Tai Lung.

Pada akhirnya, Kung Fu Panda adalah sebuah film animasi yang pas untuk dinikmati semua orang. Para anak akan gemas dengan si Po yang imut dan fluffy sementara orang tua pun bisa terpana akan koreografi kung fu di dalamnya. A definite classic.

Score: 9.0

Written by Si Tukang Review

January 15, 2009 at 10:29 pm

Posted in Motion Picture, Movie

Nothing Will Ever Be the Same

leave a comment »

01 February 2009
- Change -

Written by Si Tukang Review

January 15, 2009 at 9:01 pm

Posted in Others

[DS] Luminous Arc 2

leave a comment »

Luminous Arc 2 Cover

Luminous Arc 2 Cover

- Another Round with the Witches -

Publisher: Atlus
Developer: Marvelous
Genre: Strategy RPG

Setahun setelah Luminous Arc (LA) memperoleh sukses moderat di DS, Marvelous kembali menggarap dan merilis sekuelnya. Luminous Arc 2 (LA 2) memiliki update grafis dan suara yang lebih mentereng ketimbang prekuelnya – tetapi apakah itu cukup untuk membuatnya berbeda dari sang kakak?

Bagi mereka yang tidak pernah memainkan LA, jangan khawatir karena cerita dalam game keduanya ini sama sekali tidak berhubungan dengan game pertamanya. Cerita yang hadir adalah cerita yang berbeda, dunia yang gamer ditempati tokoh-tokohnya juga sama sekali berbeda. Satu-satunya hal yang sama hanyalah tema ‘Witch’ semata. Agaknya ini mulai menjadi trademark dari LA, sebagaimana gaya Western koboi menjadi ciri khas serial Wild Arms. Bagi anda yang kangen dengan karakter-karakter favorit anda dari game pertama, jangan khawatir, kalian masih bisa menemukan beberapa karakter yang tampil sebagai cameo dan karakter rahasia dalam game ini.

Cerita dalam LA 2 sendiri berawal dari perpecahan di kubu penyihir. Tanpa alasan yang jelas, Shadow Frost Witch memberontak dan bertikai dengan para penyihir lain. Kaum manusia selaku sekutu utama dari Witch tentu saja menjadi resah akan masalah ini. Kasus menjadi semakin pelik ketika Roland (karakter utama dalam game ini) tanpa sengaja mendapatkan alat Runic Engine yang memampukannya memperoleh kekuatan penyihir. ‘Kecelakaan’ ini membuat Roland dan kedua temannya mau tak mau terpaksa ikut dalam perjalanan menuntaskan masalah para penyihir. Yang tak pernah Roland sangka adalah nasibnya yang jauh lebih terikat ketimbang yang sebelumnya ia perkirakan.

Gameplay dalam LA 2 sama dengan LA. Anda masih bertarung dalam grid-grid ala Strategy RPG. Tiap karakter memiliki kemampuan spesial mereka masing-masing. Job Class lama seperti Swordian, Archer, Gunner, Ninja, hingga Witch yang merepresentasikan elemen mereka masing-masing kembali hadir dalam game ini. Yang menjadi inovasi pembeda LA 2 adalah sistem Engagement game ini. Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, Roland memiliki Runic Engine yang memampukannya menyerap kekuatan para Witch, kemampuan ini bisa diaktifkan dalam battle dengan sistem Engagement. Selama melakukannya, status Roland akan naik tergantung dengan siapa Witch yang ia ajak untuk engage (misalnya: engage dengan Fire Witch akan meningkatkan Strength-nya, sementara engage dengan Earth Witch akan meningkatkan Defense-nya).

Selain memperkenalkan sistem Engagement, dua sistem lama diperbaharui di sini. Yang pertama adalah sistem Random Battlenya. Bila dalam LA anda dipaksa untuk bertarung ketika melakukan backtracking, LA 2 lebih friendly dan mengijinkan anda melakukan Battle dengan mengambil tugas-tugas di Guild. Berkelana di World Map terasa jauh lebih menyenangkan setelah gamer tahu bahwa ANDA dan bukan GAMEnya yang menentukan kapan anda harus bertarung. Sistem Intermission juga mendapat perombakan. Kali ini game menentukan siapa saja yang bisa melakukan Intermission dengan kamu; juga Intermission hanya terjadi di saat-saat khusus. Kendati terasa kurang bebas, Intermission juga menjadi lebih ‘nyambung’ dengan jalan cerita utamanya.

Ending alternatif serta bonus-bonus yang disediakan dalam LA 2 memberi nilai plus untuk memainkan ulang game ini. Berbeda dengan LA yang sistem Intermission-nya hanya berfungsi untuk mengenali karakter lain lebih dalam, sistem Intermission dalam LA 2 memberi anda kesempatan untuk mendapatkan bonus-bonus cutscene yang hanya bisa terbuka kalau anda sudah cukup dekat dengan gadis tertentu. Ending alternatif Roland yang akhirnya jadian dengan gadis lain juga bisa didapat asal kamu menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam Intermission dengan benar. Tidak mungkin mendapatkan semua bonus dalam sekali atau dua kali main. Sebuah guide di internet menyatakan bahwa dengan bermain paling efisien sekalipun, anda sekurang-kurangnya perlu EMPAT kali menamatkan game ini untuk mendapatkan seluruh bonusnya. Belum lagi sidequest yang mengijinkan anda bertarung menggunakan karakter Witch yang berbikini (tidak, saya tidak bercanda) dan pertarungan via Wi-Fi / Wireless. LA 2 memberi gamer banyak alasan untuk memainkannya lepas dari apa mereka sudah menamatkan skenario utamanya atau belum.

Terlepas dari semua pujian yang saya sampaikan, LA 2 bukannya tanpa kelemahan. Jalan cerita kali ini kalah berkualitas dibanding sang pendahulu. Kurang intrik, dan beberapa plot twistnya terasa dipaksakan (enough with the villain-related syndrome please!).

Toh, lepas dari itu semua LA 2 tetap merupakan upgrade yang menyenangkan. Tambahan yang ada membuat LA 2 menjadi lebih nikmat untuk dimainkan – tanpa membuatnya kehilangan ciri khasnya sebagai sebuah game Luminous Arc.

Final Verdict:

Gameplay: 8.5
Satu-satunya kekurangan mencolok yang saya lihat adalah karakter yang tidak balance. Beberapa karakter dalam game ini over-powered sehingga gamer cenderung akan memakai mereka dan melupakan karakter-karakter lainnya. Tingkat kesulitan dalam game ini juga didowngradekan secara signifikan.

Graphic / Sound: 7.5
Tidak banyak perubahan dilakukan Marvelous dalam aspek ini. Design karakternya tetap memikat. BGM-nya kini lebih jelas berkat informasinya di layar bawah DS. Sayang voice-actingnya – walau ada kemajuan – tetap menyebalkan untuk didengar (dan anda tahu siapa seiyuu di game Jepangnya? Ada seiyuu dari Kira Yamato dan Lacus Clyne di Gundam Seed. The irony…)

Play Time: 8.5
Dengan begitu banyaknya bonus yang bisa kamu dapat, dijamin kamu pasti memainkannya lagi kalau memang ‘gemar’ dengan gadis-gadis anime. Lepas dari itu, game ini memiliki cerita yang lebih panjang (baca: lebih banyak chapter) serta lebih banyak sidequest yang bisa dilakukan. Siapa yang tidak mau menyelesaikan sidequest yang memperbolehkanmu melihat karakter-karaktermu dalam bikini coba?

Overall: 8.2

Written by Si Tukang Review

January 15, 2009 at 12:38 pm

Posted in DS, Handheld

Tagged with , ,

[Movie] Quantum of Solace

leave a comment »

Quantum of Solace Poster

Quantum of Solace Poster

Director: Marc Foster
Artist: Daniel Craig, Olga Kurylenko, Judi Dench, Gemma Artenton
Running Time: 106 Minutes

Sulit rasanya mencari film reboot yang lebih sukses dari Casino Royale (CR) di tahun 2006 dulu. Memang ada Batman Begins (BB) yang sama-sama sukses; tetapi ingat, semua orang tahu bahwa Batman garapan Christopher Nolan saat itu jelas akan lebih baik dibandingkan bencana layar lebar bernama Batman and Robin. Sebaliknya Die Another Day memang dicaci maki pengamat, tetapi keputusan untuk mengganti Pierce Brosnan dengan Daniel Craig serta mereboot total seluruh serial James Bond membuat para penggemar paling setia James Bond sekalipun mengultimatum bahwa film tersebut pasti gagal. Tanpa disangka-sangka, CR yang menghadirkan James Bond yang berbeda (preman Bond; ujar salah seorang teman saya) malahan menjadi film Bond yang mengundang pujian berduyun-duyun dari para kritikus. Dalam sekejab semua hujatan pada Daniel Craig berganti menjadi pujian. Kini dua tahun telah berlalu, unik untuk diamati bahwa The Dark Knight yang adalah sekuel dari BB mampu meraih sukses besar di box office. Mampukah Quantum of Solace (QoS) menyusul jejak sang ksatria malam dan berjaya?

Sekali lagi QoS dengan berani mendobrak pakem dari film-film James Bond tradisional. Kita ingat kalau kebanyakan film-film James Bond biasanya berdiri sendiri dan memiliki sedikit (kalau tidak mau dibilang tidak ada) keterkaitan satu sama lainnya. QoS sangat berbeda karena mengambil setting langsung setelah ending prekuelnya. Saya berani menyarankan anda supaya lebih dahulu menonton ulang film CR untuk bisa menikmati film ini sepenuhnya. Seperti yang kita ingat, Vesper Lynd diketahui adalah seorang double agent dan mengkhianati Bond di penghujung cerita CR. Kendati begitu, cintanya kepada Bond membuat ia rela bunuh diri untuk melindungi Bond. Dalam QoS, dimulailah petualangan Bond untuk mencari siapa sebenarnya organisasi yang memaksa Vesper menjadi double agent, dan petualangan balas dendam Bond pun dimulai. Amarah tak terkendali dari Bond ini menjadikan sang 007 makin brutal dalam menghadapi lawan-lawannya; ini jelas hal yang tak diinginkan oleh M selaku sang kepala. Ia mati-matian berusaha mengerem perilaku Bond. Di lain pihak, investigasi Bond membawanya berkonfrontasi dengan Dominic Greene, seorang kriminal berkedok pecinta lingkungan.

QoS adalah sebuah film yang benar-benar bergantung pada CR; tanpa mengikuti CR, menonton QoS seakan menonton sebuah film aksi James Bond biasa (walau dalam film ini cukup kentara bahwa James Bond berubah menjadi Jason Bourne). Tetapi apabila menonton CR lantas menonton QoS, barulah anda bisa mengapresiasi film ini. Berbagai dialog dalam film ini secara terang-terangan merujuk pada kejadian dalam CR, bahkan di keseluruhan film, Bond terus berusaha untuk melepaskan diri dari kesalahan masa lalunya (hence the word Solace in the title). Akting Daniel Craig masih menawan di sini, tetapi Judi Dench yang memerankan M-lah yang paling layak dipuji. Di film ini keduanya menampilkan chemistry yang sangat cocok; boleh dibilang mulai dari film inilah M dan Bond makin saling percaya untuk menjadi tandem tangguh boss-bawahan di kemudian hari. Olga Kurylenko dan Gemma Artenton yang hadir di film ini masih sulit lepas dari bayang-bayang Eva Green; tetapi setidaknya mereka bisa membawa nyawa sendiri di layar. Justru karakter minor lain yang sempat merenggut perhatianku adalah Jeffrey Wright yang berperan sebagai Felix Leiter. Saya sungguh berharap kalau ia masih bisa diberi kesempatan untuk muncul di film-film Bond berikutnya.

Akhir kata, QoS menghadirkan rangkaian adegan aksi yang fantastis. Rangkaian adegan ini sayangnya mengorbankan pembangunan karakter yang begitu diutamakan dalam CR. Hasilnya; QoS memang tidak semenawan CR, tetapi berkat akar kuat yang telah ditancapkan CR, QoS tetap bisa dinikmati banyak pecinta Bond yang bosan dengan sosok Bond si womanizer.

Score: 8.0

Written by Si Tukang Review

January 14, 2009 at 9:30 pm

[Movie] Eagle Eye

leave a comment »

Eagle Eye Poster

Eagle Eye Poster

Director: DJ Caruso
Artist: Shia LaBeouf, Michelle Monaghan, Rosario Dawson, Michael Chiklis
Running Time: 118 Minutes

Apa jadinya bila teknologi makin lama makin berkembang? Akankah mereka nantinya menjadi terlalu cerdas sehingga mengontrol kehidupan manusia? Beberapa kemungkinan teknologi bakalan menguasai manusia sudah pernah difilmkan melalui franchise Terminator, The Matrix, maupun I Robot. Kali ini, film Eagle Eye yang konon idenya lahir dari benak sang produser, Steven Spielberg, mengambil tema yang sama.

Jerry Shaw tidak pernah menyangka kalau hidupnya bakalan mendadak bakalan kacau balau sesudah saudara kembarnya – Ethan Shaw – meninggal dunia. Maklum, Jerry sangat berbeda dengan saudaranya itu. Apabila Ethan berdedikasi dan menjadi prajurit negara, Jerry hanya seorang tukang fotokopi rendahan. Bagaimana ia tidak kaget begitu suatu hari ada uang ratusan ribu dollar mendadak saja ditransfer di rekeningnya? Bagaimana ia tidak kaget begitu mendadak saja ketika ruang kosnya yang kumuh mendadak mendapat kiriman begitu banyak senjata?

Jerry yang dituduh oleh FBI dan semua aparat hukum Amerika sebagai teroris terpaksa menerima bantuan dari suara wanita misterius yang meneleponnya dan menjadi malaikat pembantunya. Mengikuti perintah wanita ini jugalah yang membawa Jerry bertemu dengan seorang gadis bernama Rachel Holloman. Bersama-sama, keduanya berjuang meloloskan diri dari kejaran para penegak hukum, membersihkan nama mereka, dan mencari tahu siapa sebenarnya wanita misterius yang memberi perintah pada mereka.

Usai menonton film ini, yang terlintas di benak saya adalah: “Wah, ini seperti 2001: A Space Odyssey yang digarap dengan setting modern“. Ide ini ketika diaplikasikan dalam film ternyata lebih relevan oleh karena kemajuan teknologi belakangan ini. Sayangnya konsep menarik begini kok eksekusinya kurang menggigit. Potensi yang ada kurang bisa dimaksimalkan karena dibatasi oleh skenarionya yang lebih menempatkan Eagle Eye sebagai film aksi biasa. Hasilnya, Eagle Eye jadi serba tanggung. Mau dibilang film soal intel dan teknologi cerdas macam Enemy of the State terasa mentah, sementara mau dibilang penuh aksi juga tidak.

Keadaan ini makin diperparah akting para pemainnya. Shia LaBeouf dan Michelle Monaghan menghabiskan hampir 70% waktu layar mereka bersama-sama tapi chemistry mereka minim sampai tidak terasa sama sekali. Berusaha memasukkan unsur romantis antara keduanya malahan terasa aneh dan dipaksakan. Michael Chicklis yang hadir di sini pun perannya terasa minim dan sangat-sangat dangkal. Bisa dibilang hanya Billy Bob Thornton yang bisa mencuri perhatian penonton setiap kali ia muncul di layar. Julianne Moore juga saya nilai lebih berhasil merebut perhatian penonton walau ia hanya muncul dalam bentuk suara semata.

Eagle Eye bukan film yang jelek. Bagi mereka yang menginginkan sebuah film aksi yang hanya memerlukan sedikit berpikir pasti akan menikmati Eagle Eye. Kendati begitu, jangan paranoid usai menonton film ini, teknologi sampai beberapa tahun mendatang pun belum bisa melakukan apa yang dilakukan dalam sistem Eagle Eye.

Score: 5.5

Written by Si Tukang Review

January 14, 2009 at 12:33 pm

Posted in Motion Picture, Movie

[360] Prince of Persia

with 2 comments

Prince of Persia Cover

Prince of Persia Cover

Developer: Ubisoft
Publisher: Ubisoft
Genre: Action Adventure

Prince of Persia selalu merupakan sebuah franchise yang unik. Game orisinil yang didesign Jordan Mechner ini dipuji-puji karena unsur realistis yang tidak ditemukan game-game serupa di tahun 1989. Setelah sempat mati suri karena kegagalan demi kegagalan sekuelnya, franchise ini kembali unjuk gigi dengan Prince of Persia: The Sands of Time yang mengimplementasikan sistem time travel. The Sands of Time nantinya diikuti oleh dua buah sekuel yang sama-sama laris manis di pasaran; Warriors Within dan The Two Thrones. Ketiga game yang membangkitkan kembali franchise Prince of Persia ini nantinya disebut sebagai trilogi The Sands of Time. Usai The Two Thrones, Ubisoft memutuskan bahwa mereka akan kembali mereboot franchise Prince of Persia dengan karakter dan cerita yang benar-benar fresh dan baru. Pertanyaan yang menggantung di banyak benak penggemar adalah (termasuk saya) adalah: “apakah game baru ini masih memiliki semua elemen yang menjadikan trilogi The Sands of Time begitu fun dan menarik untuk dimainkan?

Kisah dalam game ini dibuka saat Prince (namanya tidak disebutkan) menemukan seorang gadis cantik bernama Elika tengah berlari dari serangan dan kejaran para penjahat. Merasa Elika adalah seorang gadis yang cantik, si Prince yang agak-agak sok tahu ini memutuskan untuk bersikap sok heroik dan menolongnya. Tak disangka oleh si Prince bahwa Elika ternyata adalah seorang putri kerajaan dan orang yang disangka penjahat itu adalah para prajurit kerajaan yang hendak menangkapnya. Ternyata, ayah Elika hendak melepaskan sang dewa kegelapan Ahriman dari segelnya dan Elika berusaha untuk menghentikannya. Elika dan Prince gagal sehingga segel kegelapan pun terlepas. Seluruh kerajaan pun jatuh dalam kegelapan dan cengkeraman Ahriman.

Untung saja, harapan tidak punah begitu saja. Elika diberkati oleh Ormazd sang dewa cahaya untuk bisa ‘memulihkan’ tanah yang sudah tercengkeram oleh kegelapan. Tentu saja memulihkan tanah tidak akan semudah itu, Elika harus mendatangi daerah suci (disebut sebagai Fertile Ground) di tiap-tiap daerah dan melepas pengaruh kutukan itu sedikit demi sedikit. Dari sinilah dimulai kisah petualangan duet Elika dan Prince – yang mau tidak mau terseret dalam petualangan yang membahayakan ini.

Gameplay dalam Prince of Persia uniknya masih terasa mirip seperti game-game sebelumnya. Kelihatannya, Ubisoft bermain aman dengan memutuskan untuk tidak mengubah apa yang membuat franchise ini begitu unik. Sebagai Prince, anda masih bisa melakukan wall-running, bergelayutan ke sana-sini sambil melompati jurang-jurang menganga sepanjang permainan. Tambahan khas dalam Prince of Persia adalah hadirnya Elika sebagai partnermu. Sebagai putri, Elika memiliki peran yang sangat penting dalam gameplay. Ia memiliki kemampuan untuk terbang sehingga kalau bisa membantumu untuk melompat lebih jauh (dengan melemparmu ketika kamu di udara). Elika juga akan menolongmu setiap kamu jatuh ke jurang atau diserang oleh musuh sehingga kamu tidak mungkin Game Over dalam memainkan game ini.

Bicara soal sistem duelnya, inilah yang menjadi titik perubahan terbesar. Ingatkah anda bahwa bukan hal yang aneh apabila di trilogi Sands of Time anda berhadapan dengan beberapa musuh sekaligus? Dalam Prince of Persia, jangankan beberapa, anda hanya akan dibawa berduel satu lawan satu dengan musuh. Menurut Ubisoft ini akan membuat pertarungan dengan seorang musuh makin terasa mendetail dan menarik. Saya sendiri merasa bahwa sistem battle keduanya tidak bisa dibandingkan. Prince of Persia yang yang menerapkan sistem duel ini lebih mengingatkan saya dengan game originalnya yang juga menekankan duel satu lawan satu melawan musuh… mungkin dalam game ini sebenarnya dua lawan satu mengingat Elika selalu ada di sana membantumu bertarung (and she’s one hell of a fighter).

Bagi kalian yang memainkan The Sands of Time Trilogy dan merasa bahwa cerita dalamnya terlalu suram dan penuh dengan tragedi pasti akan terkejut melihat bagaimana game ini ternyata… konyol. Dari karakter Prince yang memang slengean sampai pertengkaran-pertengkaran konyol antara keduanya menjadikan saya berulang kali terbahak-bahak dalam memainkan game ini. Mungkin ini sesuai dengan tema gamenya sendiri yang tidak terlalu gelap. Para karakternya memiliki corak cel-shading yang membantu atmosfir cerah di game ini. Seperti halnya Tomba dan Okami, apabila anda berhasil membebaskan sebuah daerah dari kutukan, dunia yang tadinya nampak mati dan suram akan kembali hidup dan kaya warna.

Satu-satunya kelemahan yang bisa saya temukan dari Prince of Persia adalah kurangnya tantangan. Seperti yang saya katakan sebelumnya, dalam game ini kamu tidak akan bisa Game Over. Ini berarti kamu bisa mencoba melakukan lompatan gila-gilaan, mencoba trik-trik aneh, karena tidak ada ‘hukuman berat’ yang diberikan game ini padamu. Terlepas dari kekurangan minor ini, Prince of Persia layak dimasukkan dalam salah satu kandidat game terbaik tahun 2008. Saya tak sabar apa yang akan disuguhkan Ubisoft dalam instalasi keduanya.

Final Verdict:

Gameplay: 7.5
Membersihkan daerah demi daerah dari kutukan merupakan suatu hal yang sudah pernah diterapkan dalam Tomba dan Okami. Ini mengurangi faktor “Wow” apabila kamu melihat daerah itu menjadi ‘berwarna‘.

Graphic / Sound: 9.5
Walau gameplaynya sedikit monoton dan mubazir, untung saja, grafis cel-shading dan desain environment yang indah akan membuat anda takjub ketika menjelajahi dunia Prince of Persia. Itu, ditambah dengan voice-acting yang mantap, soundtrack yang pas, membuatmu bakalan betah terus berkelana di sini.

Play Time: 8
Kurang adanya tantangan membuat game ini tergolong cepat untuk diselesaikan. Pemain veteran akan memerlukan waktu kurang dari 10 jam untuk menyelesaikan, sementara mereka yang kurang berpengalaman akan menghabiskan sekitar 12 – 15 jam. Untung saja dunia kaya warna ini akan menggoda anda untuk memainkannya lagi dan lagi.

Overall: 8.4

Written by Si Tukang Review

January 13, 2009 at 4:32 pm

Posted in 360, Console