Posts Tagged ‘Dracula’
[DS] Castlevania: Order of Ecclesia

Order of Ecclesia Cover
- Sekali lagi berpetualang di Puri Dracula -
Seri Castleroid Ketiga di Nintendo DS
Castleroid = Castlevania yang bercampur dengan Metroid.
Itulah ciri khas (sekaligus sebutan para fans) bagi kebanyakan game Castlevania 2D yang hadir setelah era Symphony of the Night (SoTN). Terhitung lima game setelah SoTN (tiga di GBA, dan dua di DS) semuanya memakai sistem penjelajahan kastil yang diperkenalkan lebih dari sepuluh tahun silam oleh Konami. Koji Igarashi sebagai orang yang menjadi bapak Castlevania menjanjikan kepada para fans bahwa Order of Ecclesia (OoE) kali ini tidak akan sama dengan game-game Castleroid sebelumnya. Sekarang OoE sudah dirilis, saya akan menulis mengenai game ini. Apa benar OoE berbeda dengan Castlevania-Castlevania sebelumnya?
Arena yang Berbeda – Glyph yang Baru – Kesulitan yang Menantang
Yang pertama kali membuat saya terkejut adalah petualangan Shanoa (karakter utama dalam OoE) tidak dimulai dari kastil Dracula seperti kebanyakan game Castlevania lainnya. Sebaliknya, Shanoa justru berkelana dari satu tempat ke tempat lain (yang areanya jauh lebih kecil daripada kastil sang pangeran kegelapan). Hampir di setiap stage, sesosok boss menanti untuk menghadapi Shanoa (entah di depan, pertengahan, atau di akhir stage tersebut). Kian membedakannya dengan Castlevania sebelumnya: Shanoa bahkan punya dua ‘markas’ di mana ia bisa kembali setelah menyelesaikan satu stage tertentu; organisasinya yang bernama Ecclesia, dan sebuah desa kecil bernama X Village.
Bisa dibilang kalau OoE seakan menggabungkan sistem dari Castlevania lama (sistem stage demi stage ini diadapasi dari seri Castlevania klasik: Simon’s Quest) dengan sistem Castlevania baru (yang masih memungkinkan Shanoa level up, memperoleh dan menggunakan senjata baru, dan (SPOILER) kembalinya kastil Dracula di paruh kedua permainan).
Selain perbedaan dari sistem penjelajahan Shanoa, OoE juga memperkenalkan sistem Glyph. Sistem Glyph serupa tetapi tidak sama dengan sistem Soul dalam Aria of Sorrow. Dalam game ini, Shanoa memiliki kemampuan khusus untuk ‘menghisap’ kekuatan musuh. Tentu saja tidak semua musuh memiliki kemampuan yang bisa dihisap oleh Shanoa. Setiap musuh yang memiliki segel sihir usai dikalahkan atau mengeluarkan segel sihir untuk melawan Shanoalah yang merupakan musuh yang kemampuannya bisa dihisap oleh Shanoa.
Glyph ini pun fungsinya bermacam-macam. Ada yang berfungsi sebagai senjata tradisional Castlevania (pedang, kapak, panah, tombak dan sebagainya), ada pula yang berfungsi sebagai sihir magis untuk Shanoa seperti elemen (air, api, petir, cahaya, maupun kegelapan), dan ada yang berfungsi sebagai support bagi Shanoa (memberi kemampuannya menembus tembok, atau menganugerahinya sepasang sayap).
Combo-combo dari setiap Glyph ini membawa kedalaman baru dalam permainan OoE. Saya sudah mencoba sendiri bahwa tidak ada satu Glyph yang benar-benar super-kuat sehingga bisa dipakai mengalahkan semua jenis musuh. Rajin-rajin bereksperimen dan melihat Glyph mana yang paling efektif adalah kunci Shanoa untuk survive dalam menghadapi makhluk-makhluk kegelapan.
Bicara soal musuh-musuh di dalam game ini, OoE memiliki kesulitan yang jauh – jauh lebih sulit ketimbang Castlevania baru. Bahkan Igarashi sendiri pernah menyatakan bahwa “dalam game ini, anda PASTI mati”. Nampaknya kata-kata Igarashi bukan sekedar ancaman kosong; musuh-musuh di dalam OoE luar biasa sulitnya, apalagi bossnya. Apabila dulu kunci kemenangan melawan boss hanyalah menaikkan level setinggi mungkin, kali ini itu tidak lagi cukup. Menaikkan level memang akan membantu memperbesar kemungkinan para gamer menang, tetapi kunci dari kemenangan itu adalah kejelian para gamer memperhatikan pola serangan boss, dan pemakaian Glyph yang tepat sesuai kelemahannya.
Toh, naiknya tingkat kesulitan ini disambut dengan sukacita oleh kebanyakan gamer. Mereka beranggapan bahwa naiknya tingkat kesulitan bukan menjadikan OoE sebagai game yang membuat frustasi tetapi malahan semakin menantang dan menyenangkan untuk dimainkan!
Ecclesia, Orde Pembasmi Dracula
Tentunya ada cerita di balik lahirnya Order of Ecclesia.
Seperti yang para gamer tahu; setiap kali Dracula bangkit dari liang lahatnya, biasanya para keluarga Belmontlah yang turun tangan dengan cambuk suci Vampire Killer mereka menghabisi Dracula. Entah mengapa di era ini klan Belmont mendadak saja menghilang. Tidak ada yang tahu ke mana mereka pergi.
Banyak organisasi menjadi khawatir dan mulai menyiapkan kekuatan untuk melawan kegelapan supaya semisalnya Dracula bangkit kembali, umat manusia masih bisa bertahan. Satu dari organisasi itu adalah Ecclesia. Suatu saat, Barlowe selaku pemimpin Ecclesia berhasil menemukan satu Glyph terkuat yang bisa mengalahkan Dracula, ia ingin mewariskan kemampuan itu kepada Shanoa yang ia anggap murid paling berbakat.
Sungguh celaka, pada saat ritual Shanoa menghisap Glyph tersebut, Albus – murid Ecclesia lain yang iri kepada Shanoa menerobos masuk ke dalam ruangan itu. Ritual terganggu, Albus kabur dengan membawa Glyph terkuat, sementara Shanoa tidak sadarkan diri, dan lebih parahnya lagi, kehilangan semua emosinya akibat ritual penghisapan yang gagal. Barlowe – cemas akan apa yang akan diperbuat oleh Albus dengan kekuatan sebesar itu di tangannya – memerintahkan kepada Shanoa untuk merebut kembali Glyph dan membujuk Albus supaya kembali ke jalan yang benar. Berhasilkah?
Kembali ke Nuansa Suram
Satu hal yang disambut bahagia oleh para gamer (termasuk saya) adalah keputusan dari Igarashi mengembalikan design OoE pada nuansa gothic angst yang telah menjadi trademark Castlevania. Tadinya, Igarashi sempat menginginkan supaya Castlevania di DS bisa dinikmati oleh semua usia dan memilih mengambil langkah penggambaran anime untuk Dawn of Sorrow dan Portrait of Ruin. Strategi ini rupanya kurang berhasil dan memicu banyak kritik dari gamer sehingga Igarashi pun sadar bahwa Castlevania memang harus hidup di dunia suram seperti ini, bukan dunia penuh warna seperti kedua Castlevania DS sebelumnya.
Spreading the Terror… Online!
Game ini kaya akan bonus tambahan. Menamatkan game ini akan membuka kesempatan para gamer menjajal Boss Rush mode dan memainkan New Game Plus. Dalam New Game Plus, gamer diperkenankan main kembali sebagai Shanoa dengan mempertahankan level dan kebanyakan senjata yang dimiliki Shanoa. Kalau bosan dengan Shanoa, menjajal keangkeran kastil Dracula dengan karakter lain pun bisa dilakukan (saya terpaksa tidak bisa memberitahukan siapa nama karakter tersebut karena ditakutkan bersifat spoiler).
Memainkan game ini online pun tidak kalah menarik. Gamer bisa melakukan lomba dengan sembarang orang (atau dengan teman apabila tahu Friend Code-nya) untuk menyelesaikan misi atau stage tertentu. Rata-rata misi dan stage ini bisa dimainkan secara cepat. Bisa juga kalau para gamer malas membunuh satu musuh berkali-kali hanya untuk mendapatkan item tertentu, mencoba mencari dan membeli item ini online dari orang lain yang menjualnya.
Final Verdict:
Gameplay : 9
Menawarkan konsep gameplay gabungan dari Castlevania lama dan baru. Hasilnya; Order of Ecclesia terasa fresh dan baru tanpa kehilangan feel-nya.
Graphic / Sound : 8.5
Ada opsi penggunaan dua bahasa di sini, voice-acting Amerika atau seiyuu Jepang. Dua-duanya dikerjakan dengan profesional. Beberapa stage dalam game ini terasa mendaur ulang sprite, tetapi redesign total sprite musuh ditambah kembalinya artwork pada unsure gothic membuat saya mengabaikan kekurangan-kekurangan minor.
Play Time : 8
Total bisa makan lebih dari 15 jam untuk memainkannya pertama kali, game ini bahkan bisa memakan waktu kian lama kalau para gamer ingin melengkapi semua glyph yang ada, memainkan ulang New Game Plus, atau menjajal mode-mode lain yang ditawarkan game ini.
Overall : 8.5